Sebelas Lembaga Non Pemerintah Tuntut Usut Tuntas Aksi Kekerasan di Perkebunan Kelapa Sawit PT Tunas Sawa Erma

Korban Marius Betera, Pekebun yang meninggal dunia karena memprotes penggusuran kebunnya oleh PT Tunas Sawa Erma untuk memperluas lahan Kelapa Sawit di Asiki, Boven Digoel, Papua.@Tribun-Arafura

MERAUKE, Tribun-Arafura.com — Sebelas Lembaga Non Pemerintah yang selama ini konsen terhadap isu-isu Lingkungan Hidup, Hak Asasi Manusia dan Hak-hak Perempuan menuntut Pemerintah mengusut tuntas aksi kekerasan di areal perkebunan Kelapa Sawit PT. Tunas Sawa Erma yang menewaskan Marius Betera pada Sabtu (16/05/20) kemarin di Camp 19 Asiki, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Ke-11 Lembaga itu adalah Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Keuskupan Agung Merauke, Yayasan Pusaka Bentala Rakyat, Greenpeace Indonesia, TAPOL United Kingdom, PapuaItuKita, Eksekutif Nasional Walhi, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Papua, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Papua, LP3BH Manokwari, Lembaga Studi Advokasi Masyarakat (ELSAM) dan Lembaga Advokasi Peduli Perempuan (ElAdpper).

Baca juga : Protes Kebunnya Digusur PT Tunas Sawa Erma, Marius Betera Dianiaya Polisi Hingga Meninggal Dunia

Dalam rilis yang diterima media ini, dijelaskan terjadi kekerasan fisik yang dilakukan seorang anggota kepolisian Republik Indonesia atas nama Brigadir Polisi Melkianus Yowei (MY) terhadap warga sipil orang Asli Papua (OAP) bernama Marius Betera (MB), hingga meninggal dunia.

Lokasi kejadian kekerasan bertempat di kantor perusahaan perkebunan kelapa sawit PT Tunas Sawa Erma (TSE) POP (Plam Oil Plantation) Blok A atau sering disebut PT TSE POP A/ Camp 19, Distrik Jair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.
PT. TSE POP A merupakan salah satu anak perusahaan PT Korindo Group.

Dalam rilis itu juga dijelaskan, Perusahaan Korindo Group memiliki bisnis perkebunan kelapa sawit skala besar melalui 6 (enam) anak perusahaan dan dua perusahaan pembalakan hasil hutan kayu, serta satu perusahaan hutan tanaman industri, yang beroperasi di wilayah pemerintahan Kabupaten Merauke dan Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua.

Berdasarkan informasi yang himpun dari pihak keluarga dan saksi-saksi, pada awalnya korban MB mendatangi kantor PT TSE POP A di KM 19 dengan tujuan mengadukan penggusuran kebun pisang yang ditanam korban. Pihak PT TSE kemudian menghubungi pelaku untuk datang ke kantor hingga terjadi kekerasan terhadap korban. Pelaku MY melakukan pemukulan terhadap korban MB, hingga mengakibatkan korban kesakitan dan akhirnya korban MB tidak sadarkan diri beberapa jam setelah kejadian kekerasan.

“Terlampir informasi kronologis yang disusun berdasarkan keterangan saksi-saksi dan keluarga korban. Kami menilai perusahaan PT. TSE POP A telah melakukan penggunaan pendekatan keamanan untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dan dilakukan dengan cara kekerasan, dibandingkan melakukan musyawarah mencari penyelesaian terbaik kepada pihak korban yang merasa dirugikan. Praktiknya, pendekatan keamanan berujung dengan tindakan kekerasan kepada masyarakat lemah. Pendekatan keamanan ini kerap kali digunakan perusahaan besar diberbagai tempat untuk menekan masyarakat, buruh dan Pembela HAM Lingkungan,” rilis ini menyebutkan.

Dowload : Pernyataan Sikap Usut Tuntas Kekerasan di Perkebunan Kelapa Sawit PT. Tunas Sawa Erma, DistrikJair, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua

Masih menurut rilis ini, tindakan pelaku sebagai aparat kepolisian yang membantu PT. TSE telah menyalahi tugas dan fungsinya sebagai aparat kepolisian. Berbagai peraturan perundang-undangan telah mengatur dan membatasi peran, tugas dan fungsi kepolisian Republik Indonesia secara ketat dalam melakukan pencegahan, penegakkan pelanggaran hukum pidana. Berdasarkan informasi dari masyarakat pelaku bukan anggota kepolisian yang bertugas di wilayah Distrik Jair dimana perusahaan berada.

Tindakan pelaku terlibat membantu PT TSE dianggap sebagai pelanggaran serius yang harus segera diusut.
Tindakan pelaku melakukan kekerasan terhadap korban merupakan tindak pidana yang harus dipertanggungjawabkan pelaku di depan pengadilan. Pelaku dapat diancam melakukan tindak pidana penganiayaan hingga mengakibatkan meninggalnya seseorang hingga pembunuhan terhadap seseorang.

Ke-11 Lembaga ini meminta pimpinan Kepolisian Daerah Provinsi Papua dan Kepolisian Resor Kabupaten Boven Digoel, untuk melakukan tindakan tegas segera menangkap pelaku dan menegakkan proses hukum melalui sidang etik kepolisian dan proses di pengadilan umum, serta memberikan sanksi yang seadil-adilnya.

Mereka juga meminta pemerintah Provinsi Papua dan pemerintah daerah Kabupaten Boven Digoel untuk segera mengevaluasi keberadaan aktifitas perusahaan PT. Tunas Sawa Erma POP A dan keberadaan perusahaan-perusahaan besar di wilayah tersebut untuk menghentikan kerjasama keamanan dengan pihak aparat TNI dan Polri, patuh kepada peraturan perundangan-undangan yang berlaku, menghormati hak-hak masyarakat adat. Pemerintah daerah harus melakukan tindakan tegas kepada perusahaan yang melakukan pelanggaran dengan memberikan sanksi-sanksi tegas mulai dari pencabutan izin hingga pemulihan hak-hak masyarakat adat yang telah dilanggar.

Kepada pihak masyarakat dan pihak keluarga yang berduka, mereka meminta untuk tetap konsisten dan tidak takut untuk menegakkan keadilan bagi korban dan masyarakat. [TA]

About Tribun Arafura (328 Articles)
Media Online

1 Trackback / Pingback

  1. Kasus Pembunuhan Marius Betera, Tigor Hutapea : Polda Papua Harus Usut Tuntas! – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: