Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Kelima)

Jenderal Abdul Haris Nasution adalah Jenderal Besar Indonesia. Teorinya tentang Perang Gerilya pernah dipakai oleh Gerilyawan Indonesia mengalahkan Belanda, Gerilyawan Vietcong mengalahkan tentara Amerika Serikat di Perang Vietnam dan Gerilyawan Fretilin mengalahkan Tentara Indonesia di Timor Leste.@Ist.

Sambungan dari Bagian Keempat

5. Akan tetapi perang gerilya tidaklah berarti bahwa seluruh rakyat bertempur.

Seperti dijelaskan tadi si gerilya adalah pelopor perjuangan ideologi rakyat, yang hidup di dalam rakyat. Jika dasar dan akar-akar ideologi itu tak ada, maka tak ada-lah basis bagi gerilya. Demikianlah si gerilya berakar sepenuhnya dalam haribaan rakyat. Maka karena itulah gerilya dapat menjadi subur. Rakyat adalah sendi bagi gerilya.

Pemimpin-pemimpin kita selalu mengibaratkan gerilya sebagai ikan dan rakyat sebagai air mencontoh kepada pelajaran dari Mao Tse Tung. Maka pemimpin Tiongkok ini pun menjelaskan, bahwa “air” itu harus dipelihara dalam “hawa” politik dan sosial ekonomi yang sewajarnya untuk dapat menyuburkan pertumbuhan gerilya yang “berenang” di dalamnya.

Hubungan dengan rakyat harus dipelihara sebaik-baiknya, tiadalah mungkin si gerilya mempunyai keistimewaan terhadap rakyat, seperti sering terjadi dalam hal pseudo-pejuang yang telah kita kenal dalam sejarah kita.

Memang dengan tegasnya, perang gerilya adalah perang rakyat, gerilya lahir dan tumbuh di atas haribaan rakyat yang berjuang, gerilya berjuang dengan bantuan, pemeliharaan dan perlindungan rakyat pula. Gerilya adalah prajurit rakyat yang sejati.

Akan tetapi tiadalah berarti, bahwa seluruh rakyat harus bergerilya aktif, bergerilya dalam arti yang khusus. Dalam arti yang umum perang gerilya adalah perang rakyat semesta, perang militer, politik, sosial-ekonomi dan psikologis. Buat khusus aktif bergerilya, menghantam musuh dengan serangan-serangan bersenjata dan sabotase maka menurut Lawrence adalah cuma 2% gerilya dan 98% sebaliknya adalah rakyat yang bersimpati, jadi 2% yang bertempur dan 98% yang membantu, 2% yang aktif bergerilya dan 98% yang pasif.

Dalam hal gerilya juga diutamakan kualitas. Gerilya yang tabah, penuh semangat dan yang mahir dalam tugasnya, walaupun kecil jumlahnya, akan lebih bermanfaat dari pada massa yang bersenjata. Dalam Perang Boer di Afrika Selatan, pasukan-pasukan gerilya dapat mengimbangi tentara Inggris yang 30 kali besarnya. Lima sampai enam ribu gerilya merah Malaya dapat mengikat 100.000 tentara dan polisi Inggris. Kita juga mengalami, betapa gerilya RMS dapat mengimbangi TNI dengan bandingan 1 peleton terhadap 1 – 2 batalion. Pula gerilya oleh Batalion 426 mengimbangi setiap kali 8 batalion dari pihak kita, namun ia tak dapat dihancurkan, benar-benar ia telah diburu, tapi kita pun telah memburu.

Dalam sejarah perjuangan kita banyak sekali anjuran “rakyat bersenjata” dan “massa memberontak”. Semboyan-semboyan ini tentu harus diartikan sebagai semboyan, karena kita keliru jika membuat seluruh rakyat jadi gerilya yang aktif yang mana kita tidak mungkin dan pula tidak perlu, apalagi tidak efisien. Pemberontakan-pemberontakan massa yang bersenjata biasanya gagal mempertahankan diri. Memang massa bisa gampang diagitir untuk mengganas beramai-ramai, tapi massa itu gampang pecah-pecah dan kacau-balau, sehingga menjadi sangat sulit untuk dipimpin. Suatu sukses bisa menyalakan semangat massa dengan cepat, tapi suatu kegagalan bisa pula merosotkan dan mematahkan semangatnya sekaligus. Pula massa sangat gampang dikacaukan oleh gerakan desas-desus.

Umumnya pemberontakan-pemberontakan kita yang bersenjata secara massa di kota besar tidak memberikan hasil dalam arti militer. Di Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya telah menyala gerakan-gerakan massa bersenjata, dan yang di Surabaya telah menjadi eksplosi yang bersejarah. Akan tetapi di semua tempat itu dalam tempo yang singkat kita terpukul pecah dan terdesak keluar kota. Operasi-operasi musuh yang sistematis dapat berangsur-angsur menguasai keadaan, sedangkan kita terpaksa meninggalkan korban perorangan dan peralatan yang tak terhingga artinya buat penerusan perang gerilya seterusnya. Maka ledakan massa tersebut adalah terutama mempunyai arti psikologis, yang menunjukkan kesanggupan perjuangan kita sebagai bangsa, tapi pula seharusnyalah pimpinan segera mengatur inti-inti gerilya yang mahir untuk dapat meneruskan perang gerilya yang lama.

Ekses-ekses dari “seluruh rakyat dipersenjatai” telah kita alami. 470.000 anggota-anggota badan-badan perjuangan di daerah aman Republik sesudah Renville yang menjadi beban yang tak terpikul bagi negara yang telah kehilangan “daerah-daerah plusnya” di tengah-tengah blokade Belanda yang rapi. Rakyat desa menderita, karena harus merawat orang-orang perjuangan yang tidak produktif secara “jaminan total”. Korupsi oleh bapak-bapak pemilik pasukan-pasukan menjadi gampang. Nama perjuangan dipakai buat menutupi segala macam kepentingan perseorangan dan golongan. Dan dalam clash ke I dan II kita saksikan betapa berkurangnya jumlah pejuang, akan tetapi jika perang selesai maka jumlahnya membumbung tinggi lagi. Dan masyarakat serta negara bertahun-tahun ini masih terus menderita karena akibat-akibatnya, dan masalah bekas pejuang menjadi sangat sulit. Sulit menentukan jumlah yang sungguh-sungguh bekas pejuang, sehingga mereka yang betul-betul bekas pejuang ini menjadi korban oleh jumlah-jumlah pseudo-pejuang yang berlipat ganda. Kita mengalami, betapa di ibukota Jakarta saja tercatat lebih kurang 70.000 bekas pejuang sesudah penyerahan kedaulatan yang minggu-minggu pertama mengeluh, karena personilnya banyak menggabungkan diri kepada badan perjuangan. Seringkali daerah-daerah kekurangan pemuda untuk pekerjaan-pekerjaan dan ladang, karena mereka telah turut perjuangan.

Maka dalam hal ini “seluruh rakyat dipersenjatai” itu sering kali bukanlah kita lagi yang menggerilya musuh, melainkan musuhlah yang menggerilya kita, karena kita tak dapat mengatur dan menguasai jumlah-jumlah yang besar itu.

About Tribun Arafura (328 Articles)
Media Online

1 Trackback / Pingback

  1. Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Keempat) – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: