Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Keempat)

Jenderal Abdul Haris Nasution adalah Jenderal Besar Indonesia. Teorinya tentang Perang Gerilya pernah dipakai oleh Gerilyawan Indonesia mengalahkan Belanda, Gerilyawan Vietcong mengalahkan tentara Amerika Serikat di Perang Vietnam dan Gerilyawan Fretilin mengalahkan Tentara Indonesia di Timor Leste.@Ist.

Sambungan dari Bagian Ketiga

4. Perang gerilya biasanya adalah perang ideologi. Perang gerilya adalah perang rakyat semesta.

Dalam contoh yang ketiga ini, maka perang gerilya adalah induk tenaga perang seluruhnya, bukan cuma buat membantu seperti dalam contoh-contoh yang lain. Maka jelaslah pula bahwa perang sedemikian memerlukan waktu yang jauh lebih lama dan meminta penderitaan dan pemerasan tenaga yang jauh lebih luas dan berat. Memang perang gerilya bukanlah yang tergampang dan terenteng melainkan sebaliknya. Perang gerilya meminta ketabahan dan kesanggupan yang jauh lebih berat.

Maka sejarah-sejarah perang gerilya cukup jelas menunjukkan betapa luasnya kerusakan-kerusakan jasmani dan rohani yang diakibatkan. Kebiasaan bergerilya membawa kebiasaan menyampingkan ukuran-ukuran hukum dan adat-istiadat yang lazim. Kebiasaan bergerak di bawah tanah mengacaukan pendudukan musuh, membumihangus, melakukan sabotase, berhakim sendiri dan sebagainya, yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan kecil atau juga oleh perseorangan, dengan tidak dalam hubungan organisasi yang lazim serta tidak menurut garis-garis hukum yang lazim.
Kerusakan-kerusakan lahir dan batin yang diakibatkannya sedemikian berat, sehingga ternyata di negara-negara yang telah berperang gerilya, diperlukan berpuluh-puluh tahun lagi buat memperbaiki, sehingga masih lama terus berkecamuk kekacauan-kekacauan di segala lapangan. Daerah-daerah gerilya di Asia Tenggara dari masa perang yang baru lalu, yakni perang ideologi, penjajahan kontra kemerdekaan dengan ditumpangi oleh anasir-anasir perang dingin antara Barat dengan Timur. Perang gerilya Indonesia tidak terhenti sesudah penarikan tentara Belanda, ia melanjut sebagai perang saudara yang tidak kurang hangatnya.

Ideologi, semangat kemerdekaan, menjadi sumber kekuatan dan kesanggupan untuk memulai peperangan melawan musuh yang kuat dan teratur dengan segala tentaranya. Kesanggupan untuk menyalakan peperangan rakyat yang semesta, yang cuma bermodal senjata pada api perjuangan yang menyala dalam tiap sanubari. Lazim gerilya timbul dari gerakan massa berontak. Gerakan massa meningkat kepada perang gerilya, yang terus meningkat kepada perang biasa. Demikianlah biasanya lahir dan tumbuhnya gerilya di atas haribaan rakyat yang tertindas dan terjajah. Atau si gerilya tumbuh dari sisa-sisa tentara dan inti-inti rakyat yang diduduki oleh musuh penyerbu yang hendak menindas dan menjajah.
Maka hanya ideologi yang kuat hanya batin yang teguh, yang dapat meledakkan perang gerilya yang cukup tabah buat menempuh jalan penderitaan yang panjang dan sulit sampai pada tingkatan mengalahkan musuh yang kuasa. Hanya kesadaran yang suci yang dapat mengikat para gerilya, yang datang memanggul senjata, semata-mata atas panggilan hati sanubari sendiri, di mana para gerilya cukup kesempatan buat menarik diri atau memisah kapan-kapan saja. Kita telah alami dua kali perang gerilya kemerdekaan kita, betapa banyaknya pseudo-pejuang yang berdiam diri di kota-kota pendudukan, bersembunyi mengungsi di kampung-kampung, malah menyerah untuk dilindungi musuh, walaupun dalam masa damai berteriak sebagai patriot dan revolusioner yang paling ulung. Mereka masih berkeliaran, dan masih selamat berkedudukan di sekeliling kita. Mereka tidak cukup kekuatan batin buat mengambil bagian dalam perang gerilya, yang meminta kesadaran ideologi dan keteguhan jiwa yang memang sebesar-besarnya.

Maka pemerintahan-pemerintahan yang tidak didukung oleh rakyat, pemerintahan yang tidak berakar dalam ideologi rakyat, tidak dapat mengharapkan kesanggupan rakyat untuk bergerilya, jika negara mendapat serangan. Rakyat akan bersikap apatis, atau rakyat akan menjalankan perjuangan sendiri kemudian. Pemerintahan Hindia Belanda dahulu merancang perang gerilya, setelah tentaranya yang teratur kalah, buat mengikat musuh sambil menunggu kedatangan bantuan sekutu-sekutunya. Akan tetapi tiada gerilya itu berlangsung, kecuali di pulau Timur dekat basis Australia, karena seperti kata Jenderal Immamura : “Sebab kekalahan Belanda yang utama adalah karena mereka tidak dapat membuat rakyat Indonesia menjadi sekutunya”. Pemerintah jajahan tak mungkin mengharapkan kesanggupan bergerilya dari rakyatnya yang terjajah. Sebaliknya musuhnya gampang mengaktivir gerilya rakyat itu terhadapnya seperti tahun 1942 di Aceh.

Seperti dinyatakan di atas, maka perjuangan ideologi yang hebatlah yang terutama dan yang lazim membangkitkan perang gerilya. Gerakan membebaskan diri dari belenggu penindas dihina sedemikian, untuk melakukan perlawanan. Maka musuh yang menggerakan tentaranya untuk memadamkan pemberontakan hanya mungkin efektif dilawan dengan cara gerilya, dengan kekerasan. Gerilya sebagai tenaga bersenjata yang kecil dan sederhana yang dibantu, dipelihara dan dilindungi oleh rakyat, sehingga ia mampu mengimbangi tentara musuh yang besar lengkap dan teratur. Api semangat perjuangan yang menyala dalam sanubari baik dari si gerilya, maupun dari rakyat yang jadi induknya, yang memberikan kekuatan untuk menyanggup segala penyerbuan dan ujian yang berat, seperti pemboman-pemboman oleh musuh, tindakan-tindakannya yang kejam, yang membalas kepada sanak saudara, yang membakari, dan yang membengis. Api semangat itu memberikan kesanggupan memikul semua beban yang berat itu, dengan keikhlasan yang tak mungkin kiranya kalau cuma karena paksaan dari luar, seperti paksaan undang-undang dan peraturan negara. Ini semua hanya mungkin karena panggilan yang suci dari kalbu sendiri.

Oleh karena itu anggota-anggota tentara gerilya, yang memperjuangkan ideologi ini, tidaklah mungkin cuma sebagai alat negara yang diperintah memanggul senjata, melainkan sebagai pelopor ideologi ia harus aktif dalam soal-soal ideologis, dalam hal politik. Bagaimana ia akan memelopori ideologi, memperjuangkan tujuan politik-ideologis, jika ia cuma alat yang diperintah, yang harus bisu politik? Ia bukan cuma harus mengetahuinya, melainkan ia harus memeloporinya, mempropagandakannya. Tentara yang cuma selaku alat negara yang diperintah, takkan berkekuatan batin untuk menempuh perang gerilya yang dahsyat.

Justru agar dapat melaksanakan perang gerilya yang sungguh-sungguh bersifat perang rakyat semesta, maka kita dahulu dalam tahun 1948-1949 menyusun pemerintahan gerilya yang totaliter, pemerintah kelurahan, pemerintah militer onderdistrik, pemerintah militer kabupaten, pemerintah militer daerah dan kegubernuran militer, di mana berturut-turut lurah, KODM, KDM, KMD dan Gubernur Militer kecuali selaku komandan pertempuran juga menjadi kepala pemerintahan gerilya yang totaliter dengan bantuan badan-badan sipil sepenuhnya.

Susunan pemerintahan “digerilyakan”, cara-cara pengadilan dan kepolisian, cara-cara pemungutan pajak perjuangan, cara-cara penerangan, kesehatan rakyat, pengajaran, perekonomian, perhubungan dan sebagainya. Dengan “digerilyakan” demikian, maka gagal-lah musuh meniadakan susunan-susunan negara kita sehingga tak mungkin ia menyusun pemerintahannya, sedangkan di lain pihak roda negara kita terus berputar untuk meladeni kehidupan dan perjuangan rakyat.

Dalam ikatan yang semesta itu dapatlah pimpinan mengerahkan dan menyiasatkan seantero tenaga rakyat untuk satu tujuan. Tapi pula dapatlah ia memelihara syarat mutlak dari perang gerilya, yakni yang harus berpangkalan dalam rakyat. Pemerintahan gerilya kita dengan tenaga-tenaga spesial yang bernama kader-kader teritorial memelihara keutuhan dan kesuburan pangkalan rakyat itu.
(Bersambung ke Bagian Kelima)

About Tribun Arafura (328 Articles)
Media Online

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Ketiga) – Tribun Arafura
  2. Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Kelima) – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: