Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Ketiga)

Jenderal Abdul Haris Nasution adalah Jenderal Besar Indonesia. Teorinya tentang Perang Gerilya pernah dipakai oleh Gerilyawan Indonesia mengalahkan Belanda, Gerilyawan Vietcong mengalahkan tentara Amerika Serikat di Perang Vietnam dan Gerilyawan Fretilin mengalahkan Tentara Indonesia di Timor Leste.@Ist.

Sambungan dari Bagian Kedua

3. Perang gerilya tidak dapat secara sendiri membawa kemenangan terakhir. Perang gerilya hanyalah untuk memeras darah musuh. Kemenangan terakhir hanyalah dapat dengan tentara yang teratur dalam perang yang biasa, karena hanya tentara demikianlah yang dapat melakukan ofensif dan hanya ofensiflah yang dapat menaklukan musuh.

Pokok-pokok perang menyatakan dengan tegas bahwa hanya dengan ofensif musuh dapat dikalahkan, karena hanya dengan menyerang ia dapat dimusnahkan. Napoleon berkata “Janganlah berdefensif, kecuali jika tiada lagi jalan lain. Jika kamu terpaksa menjalani cara ini, maka haruslah disadari betul-betul, bahwa dengan demikian adalah hanya agar ada waktu untuk memusatkan cadangan-cadangan, dan agar dapat memancing musuh jauh dari pangkalan operasinya, dengan tujuan yang tak berubah-ubah, yakni agar pada suatu saat dapat mengadakan ofensif terhadapnya.”

Demikianlah tentara ekspedisi Inggris bersama gerilya-gerilya Spanyol mengalahkan tentara Napoleon di negeri Spanyol. Begitu pula gerilya-gerilya Rusia di belakang garis front musuhnya membantu operasi-operasi Tentara Merah yang akhirnya dapat memukul Jerman kembali. Kemenangan Merah di Stalingrad yang sangat terkenal itu adalah pula karena berkat bantuan kaum gerilya di belakang garis-garis pertahanan Jerman. Lalu lintasnya tidak aman, jembatan-jembatan dirusak, kawat-kawat diputus-putus, konvoi-konvoi ditembaki, pos-pos penjagaan dihantam pada malam hari, pasukan-pasukan kecil dihadang, dan sebagainya. Gerakan-gerakan gerilya itu sangat melelahkan dan melemahkan tentara penyerbu.

Di Tiongkok Utara tentara penyerbu Jepang menghadapi gangguan-gangguan gerilya yang sama. Rel-rel kereta api selalu terbongkar, iring-iringan kendaran ditembaki dan dirintangi dengan ranjau-ranjau peledak, pos-pos penjagaan dihancurkan, patroli-patroli dihadang, bangunan-bangunan yang dipakainya diledakkan atau dibakar dan sebagainya, sampai markas-markas Jepang dihancurkan dengan dinamit. Kawat-kawat telepon selalu hilang, digulung dan disembunyikan oleh gerilya, tiang-tiang dibakari. Sedemikian hebat hasil-hasil gerakan gerilya, bahwa tak mungkin pasukan Jepang bergerak pada siang hari, kalau kurang dari satu resimen dan segala gerakan malam hari praktis terhalang sama sekali.

Baik di Spanyol, maupun di Rusia dan Tiongkok, maka gerakan-gerakan gerilya ini tiadalah asal menggerilya saja. Gerakan-gerakan ini adalah untuk membantu operasi-operasi dari tentara yang teratur, induk tenaga perlawanan. Maka oleh karena itu gerakan-gerakan gerilya ini tidaklah terlepas sendiri-sendiri, melainkan adalah berlangsung menurut kebutuhan operasi tentara itu, jadi yang dikoordinir sepenuhnya, walaupun tindakan-tindakannya secara merdeka. Bergerak terpisah, akan tetapi sama-sama menggempur yang satu untuk siasat.

Lain halnya kalau kita yang diserang itu tak mampu menghadapkan tentara yang setara organisasinya, seperti yang kita alami selam perang kemerdekaan kita yang baru lalu. Belanda menyerang di Sumatera dengan 3 brigade dan di Jawa dengan 3 divisi yang modern. Betul kita mempunyai divisi-divisi dan brigade-brigade yang berlipat ganda jumlahnya, akan tetapi kesatuan-kesatuan ini hanya namanya yang divisi dan brigade, isinya, organisasinya adalah bukan. Maka kita tak dapat mengadakan perlawanan dengan front-front yang agak tetap, kita terpaksa membiarkan musuh menduduki semua kota-kota dan jalan-jalan raya, pendeknya meluaskan musuh bergerak ke mana saja yang ia inginkan. Sesuai dengan ejekan-ejekan kepada markas besar kita MBKD (Markas Besar Komando Djawa) dewasa itu, sebagai “Markas Belanda Keliling Djawa”. Sesuai pula dengan kritik-kritik para politisi kepada kita dewasa itu, bahwa kita tak mampu mempertahankan ibukota Yogyakarta. Dalam keadaan demikian seluruh wilayah, resminya dalam istilah biasa, telah diduduki oleh musuh, sehingga dinyatakan oleh Jenderal Spoor pada saat menginjak ambang pintu 1949: “……operasi-operasi telah selesai, seterusnya kita hanya akan melakukan pembersihan terhadap sisa-sisa, yang akan makan tempo 2 – 3 bulan lagi…….”.

Sebagai pihak si kecil, kita harus melakukan perang gerilya yang luas. Dengan adanya operasi “Wingate” kita maka kita menyusup ke semua penjuru, sehingga dari pantai Banten sampai pantai Besuki menjadi satu gabungan dari beratus-ratus medan perang gerilya yang hangat. Sehingga Belanda harus memancarkan divisi-divisinya menjadi beratus-ratus detasemen penjagaan yang statis, sehingga Belanda buntu dalam gerakannya untuk meniadakan Republik Indonesia dan TNI, untuk menguasai seluruh pulau, untuk menegakkan pemerintahan federalnya, untuk memulai pembangunan ekonomi dan sebagainya, singkatnya sehingga ia buntu sama sekali dan akhirnya melepaskan tujuannya yang semula.

Dalam hal ini gerilya bukan membantu tentara yang reguler seperti dalam contoh-contoh yang tadi. Gerilya di sini adalah induk tenaga perang kita. Suatu gerilya yang semesta dengan politik non-koperasi serta politik bumi hangus, yang mampu membuntukan perang kolonial musuh. Saya sebut membuntukan, karena gerilya kita itu tidaklah mengalahkan musuh dalam arti membinasakan atau mengenyahkannya dari bumi Indonesia. Kita cuma menggagalkan usahanya. Dalam istilah perang biasa kita tidak mengalahkannya.

Kita cuma membela diri, kita cuma defensif, yang kita lakukan dengan perang gerilya yang sedemikian, sehingga buntu usahanya. Dalam defensif, yang seperti kata Napoleon, karena terpaksa belaka. Buntu usaha musuh karena kita pada waktunya mengosongkan kota-kota dan membangun kantong-kantong, di mana organisasi sipil dan militer tetap utuh; kita menghindarkan diri dari penghancuran olehnya. Kita menjalankan politik non-koperasi yang tegas, sehingga tak dapat ia membangun pemerintahan yang dapat tegak sendiri, karena cuma sejumlah kecil pengkhianat-pengkhianat yang tidak dihormati oleh rakyat, yang berkolaborasi dengan dia. Kita melakukan politik bumi hangus, sehingga gagal pembangunan ekonominya. Kemudian dari pada itu kita mengganggunya sebanyak mungkin melelahkannya dengan penghadangan-penghadangan, pengacauan-pengacauan, penyusupan-penyusupan dan sebagainya. Walaupun tindakan-tindakan ini sangat agresif, namun kita tetap dalam defensif, kita tetap dalam membela diri. Tidak mampu kita merebut kota-kota distrik pun dan tidak mampu kita mempertahankannya lama-lama terhadap serangan musuh. Kita membiarkan musuh “keliling Jawa”. Tidak mampu kita menghancurkan pos-pos musuh yang terpencil maupun konvoi-konvoinya yang lewat.

Bahwa musuh akhirnya mengalah, bersedia mengakui dan mengembalikan segala sesuatu kepada Republik dan TNI-nya, bersedia menyerahkan kedaulatan dengan beberapa kompromis dan bersedia menarik mundur tentaranya, ini semua dipercepat oleh gerakan politik atas tekanan internasional, sehingga tak perlu kita lakukan perang gerilya yang lama, yang pada suatu taraf harus mempunyai tentara reguler yang mampu berofensif.
Oleh karena itu tidak boleh ada pertempuran yang percuma belaka, yang hanya memukul atau mengganggu musuh, apalagi yang berarti pengorbanan sebagian dari kekuatan gerilya. Si gerilya harus hemat sekali dengan tenaga. Kehilangan 1 senapan mesin bagi si gerilya lebih berarti daripada bagi si lawan yang besar, sama saja dengan arti satu rupiah bagi si miskin lebih berarti bagi si kaya. Oleh karena itulah maka gerilya tak boleh bertempur asal berani-beranian saja, seperti yang sering dianjurkan oleh pimpinan-pimpinan dan propaganda kita di masa-masa yang lalu, yakni “jangan mengenal mundur, terus menyerang, terus menggempur”. Dengan cara-cara demikian kita telah kehilangan perpuluh-puluh ribu senjata dengan pelurunya dalam pertempuran di kota-kota besar dan di pinggirnya, apalagi kehilangan hampir semua peralatan besar dan segala sesuatunya sebelum mulai peperangan yang sebenarnya.

(Bersambung ke Bagian keempat)

About Tribun Arafura (328 Articles)
Media Online

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Kedua) – Tribun Arafura
  2. Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Keempat) – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: