Begini Kisah Mispo Gwijangge, Bocah 14 Tahun yang Dituduh Bunuh 17 Karyawan PT Istaka Karya di Nduga

Mispo Gwijangge, bocah 14 tahun yang dituduh bunuh 17 karyawan PT Istaka Karya di Nduga

Mispo Gwijangge (MG) (14 tahun) adalah anak dari pasangan Welai Gwijangge (Alm) dan Watimi Kogeya asal Kampung Suwemen Distrik Yigi Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

Saat MG kecil sang ayah meninggal dunia sehingga MG yang bertumbuh remaja tidak berniat masuk sekolah seperti teman-teman seusianya karena dia menjadi tulang punggung keluarga di rumah untuk membantu ibu-nya.

Bertani dan membelah kayu bakar menjadi aktivitas kesehariannya. Dia tidak bergaul dengan orang luar ataupun berpergian tetapi selalu berada di kampung bersama ibu-nya. Dengan demikian MG tidak bisa berbahasa Indonesia dan hanya tahu bahasa ibu yakni Bahasa Nduga.

Pasca peristiwa 2 Desember 2018 di Distrik Yigi Kabupaten Nduga dimana 17 karyawan PT Istaka Karya menjadi korban, Presiden RI sebagai Panglima Tinggi Negara didampingi oleh Kapolri dan Panglima TNI mengumumkan operasi militer dalam rangka mengejar Egianus Kogeya dan anggotanya.

Kehadiran ribuan anggota TNI dari berbagai kesatuan dan Kepolisian RI membuat seluruh penduduk Kabupaten Nduga mengungsi ke hutan dan kabupaten-kabupaten tetangga seperti Jayawijaya, Lani Jaya, Mimika, Asmat dan Merauke.

Saat itu MG dan ibu-nya bersama para pengungsi lainnya memilih ke Wamena Kabupaten Jayawijaya.

Saat berada di Wamena itulah, pada Mei 2019 lalu, MG ditangkap oleh Kepolisian Jayawijaya dengan tuduhan dia telah membunuh karyawan PT Istika Karya. Saat ditangkap tidak ada surat penangkapan dan tidak ditanya atau dilaporkan kepada keluarga.

Saat membuat BAP, MG diketahui tidak didampingi pengacara hukum. Dia juga dipukul dan dipaksa mengaku sebagai pembunuh 17 karyawan PT Istaka Karya sementara MG tidak mengerti pertanyaan apa yang ditanyakan kepada dirinya karena tidak ada penerjemah bahasa Indonesia ke bahasa Nduga.

Setelah dibuat BAP MG dibawa ke Jakarta untuk disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan alasan keamanan tidak terjamin untuk disidangkan di Pengadilan Negeri Wamena. Setelah di Jakarta JPU mendakwahkan hukumun mati karena dia dinyatakan merupakan otak dari peristiwa di Distrik Yigi 2 Desember 2018.

Pihak keluarga baru mengetahui lewat media dan membentuk Tim Advokasi Papua bersama Aktivis Hak Asasi manusia di Jakarta mendampingi MG sampai saat kronologis ini dibuat sidang ke-5 sedang berlangsung. Polisi atau Kasat Reskrim Polres Jayawijaya dan Kejaksaan Jayawijaya masih ikut memonitor sampai sekarang di PN Jakarta Pusat. Hakim dan Jaksa tidak menyiapkan penerjemah bahasa Nduga ke bahasa Indonesia terapi Tim Advokasi Papua dan keluarga harus siapkan sendiri.

Banyak kejanggalan dalam kasus Mispo yang menyadarkan kita bahwa MG menjadi tumbal dari rekayasa kepentingan institusi negara dan oknum-oknum yang terlibat secara langsung dalam kasus ini. [TA]

About Tribun Arafura (292 Articles)
Media Online

1 Comment on Begini Kisah Mispo Gwijangge, Bocah 14 Tahun yang Dituduh Bunuh 17 Karyawan PT Istaka Karya di Nduga

  1. Reblogged this on .

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: