Rekonsiliasi Dalam Perspektif Budaya Muyu

Damianus Katayu, S.IP, MA, Dosen Prodi Ilmu Pemerintahan STISIPOL Yaleka Maro Merauke. @Tribun-Arafura.com

Sebuah Refleksi Singkat dari Mindiptana

Oleh : Damianus Katayu*

Apa arti sebuah nama? Ada banyak presepsi tentang nama Muyu. Berasal dari nama Sungai, yakni orang-orang yang mendiami secara turun temurun di pesisir sungai Muyu. Juga ada yang menyebutkan “Katuk Kati” yang artinya manusia sejati, tetapi juga etnis-etnis di Papua New Guinea menyebutkan etnis Muyu dengan sebutan “Yonggom”. Secara topografi, daerah Muyu berbukit-bukit di sepanjang perbatasan PNG, antara pegunungan tengah dan dataran pantai selatan, topografi tersebut telah membentuk karakter dasar etnis Muyu. Sistem kepemimpinan tradisional (Tomkot dan Kayapak), sistem ekonomi dengan menggunakan Ot sebagai alat transaksi, maupun sistem sosial budaya, yakni; Ketpon, Atambon, Kaket, Waruk, dan lain sebagainya, sebagai simbol hidup. Sistem-sistem tersebut telah membentuk satu kesatuan yang saling menunjang dalam kehidupan etnis Muyu.

Ada tiga pendekatan besar yang dapat digunakan untuk membaca etnis Muyu, yakni : Pendekatan budaya (culture approach); jauh sebelum kehadiran agama dan pemerintah, budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Norma-norma adat menjadi pedoman dalam interaksi pada sesama klen (sub-marga) dalam etnis Muyu, juga relasi dengan etnis-etnis lainnya, seperti Wambon di sebelah barat, Awin di sebelah timur dan juga etnis-etnis lainnya. Ketpon, Atambon, Kaket, Jowotang Benbai, Men dan lainnya sebagainya, yang diwariskan secara turun temurun telah menjadi simbol budaya yang diyakini memiliki kekuatan dalam kehidupan etnis Muyu. Dalam pendekatan agama (religion approach), kepercayaan etnis Muyu terhadap nilai-nilai kristiani memilik relevansi yang kuat dengan nilai-nilai budaya (cerita mitologi pada Atambon pertama), dan juga proses inisiasi (Kaket). Sehingga 100% Muyu dan 100% Katolik menjadi harga mati. Sementara pendekatan pemerintahan (goverment approach), sikap mobilitas yang tinggi melatarbelakangi etnis Muyu banyak terlibat dalam birokrasi pemerintahan maupun swasta dalam menunjang pembangunan daerah.

Perubahan peradaban dari sistem tradisional ke sistem modern pada suatu suku bangsa tentunya tidak berjalan dengan mulus. Benturan peradaban antara nilai-nilai tradisional dengan nilai-nilai modern pasti saja terjadi, karena masing-masing akan saling mempertahankan, bahkan saling menyerang. Tetapi juga di lain sisi ada yang saling menerima, karena ada kesamaan nilai yang diyakini menjadi presepsi bersama. Demikian ketika Kambarim Tarep Petrus Hoeboer, MSC masuk di tanah Muyu pada tahun 1933. Selain Evanggelisasi, program “Desanisasi” untuk memajukan pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan yang dilakukan Pastor Petrus Hoeboer, MSC, bersama para misionaris lainnya dan para guru-guru Katekis dari luar. Dalam proses Evanggelisasi dan pembangunan pada saat itu yang dilakukan tidak berjalan dengan mulus. Karena banyak terjadi benturan budaya, antara budaya yang diyakini oleh etnis Muyu, budaya Eropa yang dimiliki oleh para misionaris dan budaya yang diyakini oleh etnis-etnis lain.

Ada sikap, perilaku bahkan tindakan yang kurang baik, dilakukan oleh etnis Muyu terhadap para Misionaris dan perintis pada saat itu. Juga sebaliknya, sikap, perilaku bahkan tindakan kurang baik, yang dilakukan oleh para Misionaris dan perintis pada saat itu, kerapkali ditunjukan kepada etnis Muyu. Lembaran baru pasca pemekaran Boven Digoel juga telah menjadi memori kelam dalam relasi etnis Muyu dan Wambon. Walaupun dipandang sebagai memori masa lalu, tetapi dinamika tersebut telah menyimpan borok yang harus diobati pada lintas generasi sekarang. Selain terjadi benturan dengan sesama manusia, etnis Muyu juga meyakini ada dosa masa lalu yang dilakukan, yakni pada peristiwa Atambon pertama (mitologi babi pemali).

Memori-memori masa lalu dipandang perlu dalam perspektif etnis Muyu generasi sekarang, untuk didudukan dalam sebuah rekonsiliasi bersama, karena dengan rekonsiliasi, para pihak akan membuka memori masa lalu, untuk mencari perdamain. Sekat-sekat dalam bentuk perselisihan yang telah dilakukan oleh etnis Muyu dengan para misionaris atau dengan pihak-pihak lain, atau juga secara internal dalam diri etnis Muyu sendiri, harus didudukan pada meja rekonsiliasi. Rekonsiliasi memungkinkan piha-pihak yang terlibat konflik keluar dari kungkungan masa lampau demi masa depan yang lebih baik dimana pengrusakan dan pertikaian kemanusiaan dan kelompok tidak terjadi lagi. Rekonsiliasi secara serius akan menumbuhkan kepercayaan serta solidaritas antar sesama manusia juga dengan leluhur etnis Muyu.

Gerakan perdamaian tersebut memiliki beberapa tahapan yang dapat dilakukan, yakni pertama, memiliki moral dan etika yang baik dari semua pihak, termasuk dari dalam etnis Muyu untuk menyelesaikan, kedua, membuka memori masa lalu sebagai bentuk pengakuan diri, ketiga, melakukan pemetaan aktor-aktor, yakni para pihak yang terlibat dalam benturan budaya tersebut. Keempat; sarana yang digunakan untuk memediasi rekonsiliasi, misalnya dengan ritus-ritus adat serta dikukuhkan dengan Misa Inkulturatif etnis Muyu. Karena Yawatbon merupakan sarana yang mengikat semua pihak untuk berdamai demi kebaikan bersama (Bonum Commune).■

*Penulis adalah Dosen Pada Prodi Ilmu Pemerintahan STISIPOL Yaleka Maro Merauke

About Tribun Arafura (285 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: