Kasak-Kusuk Terkait Rohaniwan Katolik OAP Mati Muda

Jenazah Pater Neles Tebay Pr diusung menuju Aula STFT Fajar Timur Abepura.@Tribun-Arafura

Oleh : Yosef Rumaseb

Banyak kasak-kusuk. Agak aneh. Pater Dr. Nelles Tebay (55 thn) menambah daftar keanehan itu.

Rohaniwan Katolik dari etnik Papua, apalagi yang terkenal aktif membela Hak Asasi Manusia Papua banyak meninggal di usia relatif muda.

Sementara rohaniwan Katolik dari etnik lain, yang juga membela HAM di Papua, berusia sangat lanjut. Juga rohaniwan Kristen Protestan yang aktif membela HAM tidak alami seperti itu.

Pater Jack Mote, Pastor Nato Gobay dan sekarang Pater Dr. Nelles Tebay. Rata-rata meninggal di usia 50-an tahun. Bandingkan dengan almarhum Uskup Muninghoff OFM yang meninggal di usia 93 tahun. Dan banyak lainnya.

Berbagai keyakinan dan kecurigaan muncul. Saya merangkumnya.

Pertama, umat yang pasrah total pada kehendak TUHAN meyakini bahwa semua ini adalah kehendak TUHAN. “Kami mencintaimu, tetapi TUHAN lebih mencintaimu”. Itu kalimat yang banyak kita baca.

Kedua, jika kita ikuti diskusi di kalangan aktivis, kita bisa menyimpulkan adanya kecurigaan mengenai upaya menyulitkan orang Papua untuk memimpin Keuskupan terutama di Keuskupan Jayapura dan Keuskupan Timika.

Di Gereja Protestan, banyak orang Papua jadi Ketua Sinode. Di jabatan sipil, TNI, dan POLRI, banyak orang Papua memegang posisi kunci. Tapi di gereja Katolik di Tanah Papua sepertinya non-sense. Rohaniwan yang potensial, akan “mati di usia muda”.

Ada anggapan bahwa jabatan Uskup sangat strategis secara internasional dan terhubung dengan Vatican dan jaringan kerja Uskup-Uskup se-dunia. Seorang Papua yang menjadi Uskup akan memiliki akses itu dan jika dia adalah Uskup yang membela HAM maka dia akan berperan seperti Uskup Belo dalam perjuangan Timor Leste atau Uskup Desmond Tutu di Afrika Selatan. Apalagi jika dia bekerja sama dengan banyak Uskup dari negara lain yang peduli pada HAM.

Posisi strategis itu yang tidak ada dalam struktur organisasi gereja lain. Pimpinan organisasi gereja lain berinduk di Jakarta atau dirinya sendiri di Papua. Tidak seperti organisasi gereja Katolik yang berinduk di Vatikan.

Ada pula kasak-kusuk lain bahwa pimpinan Keuskupan di Tanah Papua sudah dikapling. Dan kapling-kapling itu tertata rapi tanpa tempat untuk OAP memimpin umat OAP.

Ini kasak-kusuk seperti yang ada di dunia kerja pada umumnya. Semacam persaingan di dunia kerja.

Ketiga, akhir dari semua kesimpulan itu, apakah TUHAN mengijinkan rohaniwan Katolik asal Papua mati muda agar tidak jadi Uskup karena berbahaya secara politik jika mengangkat issue HAM dan atau menjadi pesaing dalam kapling dunia kerja di lingkup organisasi gereja Katolik di Tanah Papua? Berapa lama lagi?

Ini hanya kasak-kusuk. Belum tentu benar. Pertanyaan yang tidak terjawab.■

About Tribun Arafura (287 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: