Mengenang Almarhum Pastor Dr. Neles Tebay Pr sebagai Teman

Alm. Pastor Neles Tebay dilingkar merah dan Pastor Pius Manu ditandai silang merah bersama teman-teman usai pertandingan Volly di Kompleks SPG Teruna Bhakti Waena (Sekarang SMA Teruna Bhakti) di Jayapura tahun 1984. @Koleksi Pribadi Pastor Pius Manu, Pr.

Oleh : Pastor Pius C. Manu, Pr

SAYA TIDAK bertujuan untuk menceritakan segala hal yang pernah saya peroleh bersama almarhum yang meninggal dunia pada Senin, 15 April 2019 di RS St Carolus Jakarta. Karena amat banyak, yang tentunya tidak cukup untuk dimuat pada kolom ini. Makanya saya hanya menyampaikan beberapa hal saja yang saya menilai amat khusus.

Bukanya saya tidak mempunyai foto terbaru Pastor Neles Tebay, Pr sehingga foto lama ini saya tampilkan. Saya lebih senang menampilkan foto ini. Foto tempo doeloe karena foto ini mengenangkan saya akan satu peristiwa. Kejadian yang amat spesial dalam satu pertandingan Volly Putra antara Asrama Katholik Taruna Jaya dan STFT Fajar Timur dalam laga Final Pertemuan asrama-asrama Katholik se-kota Jayapura tahun 1984 di kompleks SPG Teruna Bhakti Waena, sekarang SMA Teruna Bhakti.

Dalam pertandingan itu almarhum (tanda lingkaran dalam foto) mengumpan bola kepada saya (tanda silang) ketika hendak mencapai angka terakhir pada game penutup yang sudah menjalani duce (perpanjangan waktu) 4 kali pada putaran terakhir. Yang mengherankan bahwa ia mengumpan bola dalam keadaan berbaring terlentang dari pinggir kiri lapangan volly kepada saya yang berdiri menghadap net di tengah lapangan. Umpanya itu begitu indah, amat sesuai dengan harapan dan perhitungan saya, sehingga pertandingan itu saya sudahi dengan satu pukulan kemenangan yang amat keras.

Tentu para penonton bersorak ria menyaksikan kejadian tersebut. Mereka memberi aplaus bukan kepada saya tetapi justru kepada almarhum Pastor Neles sebagai pengumpan yang handal. Ha ha ha, pada waktu itu saya sempat merasa cemburu kepada beliau atas segala pujian yang dilontarkan para penonton kepadanya.

Selama Studi di STFT Fajar Timur, beliau termasuk mahasiswa yang amat cerdas. Kecerdasan intelektualnya di atas rata-rata I Q normal. Ia pun seorang kutu buku yang banyak waktunya di habiskan di perpustakaan bahkan kerap kali juga ia meluangkan waktu yang tidak sedikit menulis beberapa artikelnya untuk diterbitkan di Tifa Irian yang ketika itu merupakan koran ternama di seluruh Irian Jaya atau Tanah Papua sekarang. Tulisan-tulisannya biasanya mencerminkan kritik sosial dengan bahasa yang sederhana, enak dibaca dan agak jenaka karena memang beliau dikenal seorang humoris juga.

Ia pun pandai berorganisasi. Ia termasuk satu pentolan dalam Organisasi PMKRI dan Pemuda Katholik. Bahkan ia merupakan salah satu mahasiswa yang dikenal kaum politisi Irian Jaya pada masa itu. Makanya pada masa itu tanpa kesulitan, para mahasiswa STFT mengangkatnya sebagai Ketua Senat Mahasiswa STFT Fajar Timur.

Walaupun beliau adik tingkat saya, namun kami sama-sama maju ke tingkat Program Mayor atau Pasca Sarjana bersama- sama setelah selesai program S1 atau Strata 1. Sejak itulah ia mulai disiapkan secara khusus untuk kemudian akan menjalani Studi lanjut. Hal itu pada akhirnya terealisir ketika ia melanjutkan Studi S2 di Manila Philipina dan kemudian menyelesaikan doktornya di Roma Italia.

Saya masih ingat satu percakapan kami berdua di bawah rimbunan pohon asam di kompleks STFT Fajar Timur Abepura. Ia pernah menanyakan saya begini: “Nae (teman), nae Studi di STFT ini betul mau jadi Pastor kah??” Dengan spontan saya menjawab, “macamnya tidak, karena saya lebih suka mengajar dan ingin membangun satu rumah tangga yang baik”. Sambil tertawa ia pun membalas komentar saya itu dengan mengatakan “saya juga tidak tahu, setan siapa dan setan mana yang arahkan saya ke STFT ini karena macamnya saya tidak yakin bahwa saya akan mencapai tahbisan imamat”. He he he , tetapi faktanya akhirnya kami berdua memperoleh tahbisan imamat juga. Syukur pada Tuhan.

Sejak beliau menyelesaikan Studi di Roma, kemudian kembali mengajar di STFT Fajar Timur Abepura dan juga diangkat sebagai Rektor, saya dengan beliau banyak kali berkomunikasi melalui telepon. Bahkan ia pernah mengirim beberapa buku kepada saya antara lain “DIALOG PAPUA-JAKARTA” yang merupakan hasil karyanya sendiri. Bahkan ia pernah mengajak saya 3 kali di Jakarta sana, menyaksinyanya ketika beliau tampil sebagai pembicara dalam pertemuan-pertemuan ilmiah.

Satu pengalaman yang masih segar dan amat membekas yang baru terjadi di Jakarta bersama beliau bulan Mei 2018 lalu.Ketika itu kami berdua sama-sama menjalani pengobatan dan pemeriksaan kesehatan di RS St.Carolus Jakarta. Setiap kali bertemu di Jakarta, biasanya kami tinggal sama-sama juga di Wisma Projo Indonesia di Jln Kramat VII Jakarta Pusat.

Ketika kami berdua jalan pagi bersama-sama, kami sempat berbincang-bincang sekitar dunia medis dan kedokteran. Dalam arti kami bangga bahwa banyak sekali anak Papua dari berbagai kabupaten sedang menjalani kuliah di Fakultas kedokteran di Universitas-Universitas ternama. Tentu mereka itu adalah aset-aset pembangunan yang amat berharga dalam bidang kesehatan di Tanah Papua. Semoga kedepannya kita dari Papua tidak perlu datang berobat di Jakarta.

Yang aneh dalam pembicaraan itu, arah percakapan kita justru berkembang lagi lebih jauh dan mulai berbincang- bincang sekitar kematian. Ia sempat mengatakan bahwa mungkin masa hidupnya di dunia tidak akan lama lagi. Sebab kondisi salah satu sisi ruas tulang belakangnya sudah cacat karena ada yang pecah dan patah, lantas pecahannya itu sudah dikeluarkan dan diganti dengan pecahan ruas tulang belakang buatan. Akibat karena kondisi itu, bisa jadi ia mengalami penyakit serius lain yang lebih fatal yang tidak bisa diobati.

Beliau sempat tanya saya “Nae, kalau nae mati, kira- kira nae punya badan itu ada guna kah tidak?”
Saya katakan terus terang, tentu tidak berguna sama sekali. Lalu beliau menanggapi ungkapan saya katanya “Kalau seandainya kita sama seperti orang Jepang yang melihat tubuh fana kita ini mempunyai manfaat yang luar biasa ketika kita mati, maka ilmu kedokteran kita akan maju seperti di Jepang. Banyak orang Jepang bercita-cita bahwa setelah mereka meninggal dunia, tubuh mereka harus diserahkan secara cuma-cuma ke fakultas-fakultas kedokteran”.

Ketika itu juga saya tersentak, membayangkan cerita keponakan saya yang kuliah di Fakultas Kedokteran UKI. Menurutnya, mereka sering berpraktek menggunakan jenazah yang sudah berkali-kali digunakan oleh beberapa angkatan. Makanya waktu itu saya berjanji kepadanya bahwa bila kelak saya meninggal dunia saya mau menyerahkan tubuh fana saya kepada Fakultas Kedokteran Universitas Cendrawasih Abepura/Jayapura.

Juni 2018 setelah saya kembali kembali ke Merauke dari Jakarta, saya sempat bertemu dengan dua dokter senior menyampaikan niat dan janji saya ini kepada mereka. Mereka berdua menyambutnya positif sekali dan menganjurkan kepada saya membuat beberapa syarat yang harus dipenuhi sebelum meninggal dunia yang akan digunakan sebagai wasiat sehingga tidak menimbulkan polemik diantara keluarga, kerabat dan kenalan.

Selamat jalan, saudaraku, temanku dan intelektual Papua serta Imam Tuhan. Semoga karena karya dan imanmu, segala keterbatasanmu dan kekhilafanmu diampuni Allah Bapa yang Maha Kuasa dan semoga bersekutu dengan Para Kudus di surga.

Kami tentu mengharapkan juga bahwa akan muncul Neles -Neles yang baru dari generasi muda Papua berkat teladan hidupmu, karyamu dan kesaksianmu.

Secara pribadi saya mengharapkan doamu dari surga yang baka agar saya boleh menyelesaikan segala syarat untuk menepati janji dan niat saya yang saya pernah nyatakan ketika kami berdua jalan kaki pagi di jalan Kramat Raya Jakarta Pusat.■

About Tribun Arafura (285 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: