Suara Kenabian Seperti Lenyap Bersama Pastor Neles Tebay

Paskalis Kossay, Tokoh Katolik Papua dan Politisi Senior Partai Golkar.@Ist

Oleh : Paskalis Kossay*

Hari ini Minggu (14/4/2019) kita dikejutkan dengan berita duka telah meninggalnya Pastor Neles Tebay, Pr di Rumah Sakit Katolik St. Carolus Jakarta Pusat. Seluruh rakyat Papua terhentak kaget mendengar dan membaca berita kematian almarhum Pastor Neles Tebay, Pr melalui media sosial maupun melalui komunikasi verbal.

Semua rakyat mulai bertanya-tanya apa gerangan penyebab kematian almarhum Pastor Neles. Orang mulai menerka sendiri penyebab kematian almarhum sesuai perspektifnya sendiri. Hal ini wajar terjadi, karena Pastor Neles Tebay merupakan salah satu tokoh umat sekaligus berperan sebagai tokoh intelektual papua yang gigih menyuarakan suara kenabian ditengah situasi konflik dan kekerasan yang dialami rakyat papua.

Pastor Neles Tebay, Pr dengan konsep Jaringan Damai Papua, berusaha keras ingin menghadirkan situasi perdamaian di tanah Papua secara permanen. Konsep perdamaian tersebut mulai ditawarkan sejak 2009 sampai hari dimana almarhum menghembuskan nafas terakhir ini.

Almarhum mengajak pemerintah Indonesia dengan masyarakat Papua agar segera mengakhiri konflik dan kekerassn melalui dialog yang setara dan bermartabat. Almarhum berpendapat, tinggalkan egoisme pandangan antara NKRI Harga Mati dan Papua Merdeka Harga Mati. Duduk bersama dan berdialog mencari solusi perdamaian permanen. Sehingga konflik dan kekerasan tidak lagi menggerogoti kehidupan masyarakat papua.

Tetapi upaya perdamaian yang ditawarkan almarhum, ternyata tidak direspon positif dari pemerintah Indonesia. Pemerintah justru menawarkan macam -macam bentuk kebijakan pembangunan yang sesungguhnya terkesan dipaksakan untuk sekedar memadamkan api konflik bukan menghilangkan sumber api konflik. Maka konflik dan kekerasan pun berlangsung dan terpelihara sampai hari ini.

Kondisi kekerasan masyarakat Nduga hari ini merupakan bukti dimana pemerintah Indonesia sama sekali tidak menghendaki jalan dialog untuk menyelesaikan nasalah papua. Pemerintah masih berpandangan kalau masalah Papua bisa diselesaikan melalui jalan kekerasan. Karena itu setiap timbul konflik selalu ditangani dengan pendekatan keamanan yang represif. Terakhir diterapkan pendekatan militer dalam penanganan kasus Nduga.

Setelah Pastor Neles Tebay tiada, siapa yang akan melanjutkan suara kenabian ini. Sepertinya sulit ditemukan sosok tokoh kenabian sekelas almarhum. Karena itu sesungguhnya, rakyat Papua telah kehilangan seorang tokoh kemanuasian yang selama ini gigih memperjuangkan nilai dan martabat kemanusiaan dengan solusi perdamaian abadi.

Demikian pula pihak Gereja Katolik Papua telah kehilangan seorang kader terbaiknya yang selama ini menjadi tiang pokok pengembangan iman kekatolikan di tanah Papua. Almarhum memegang jabatan penting di lingkungan gereja Katolik Papua, sebagai Rektor Sekolah Tinggi Filssfat dan Teologia Fajar Timur (STFT) Abepura Jayapura yang mencetak SDM Calon Imam dan petugas gereja (awam) bagi gereja katolik di 5 Keuskupan di tanah Papua.

Dedikasi almarhum terhadap masalah kemanusiaan begitu tinggi. Walaupun memiliki beban kerja yang begitu berat di lingkungan gereja, namun perhatiannya terhadap masalah kemanusiaan tak pernah sirna. Walaupun sibuk dengan rutinitas tugas-tugas kampus, almarhum tetap membagi porsi perhatian yang sama kepada keprihatinannya atas masalah kemanusiaan.

Maka gagasannya dialog perdamaian bagi Papua mulai digulirkan. Dengan dirumuskan konsep dan langkah-langkah ideal dan representatif dilakukan sebuah dialog yang bermartabat bagi kedua pihak yang berkonflik antara pemerintah Indonesia satu pihak dan masyarakat papua dipihak lainnya.

Upaya dan kegigihan almarhum terhadap penyelesaian masalah kemanusiaan tersebut merupakan wujud suara kenabian yang dipersembahksn almarhum bagi rakyat Papua. Upaya kenabian yang diperjuangkannya kadang menimbulkan resiko politik yang luar biasa. Kadang almarhum dituding oleh para aktivis Papua Merdeka , upaya almarhum bagian dari kaki tangan pemerintah Indonesia. Sebaliknya oleh pemerintah Indonesia dianggap upaya almarhum sebagai bentuk separatisme. Posisi almarhum sebenarnya sungguh dilematis.

Walaupun demikian almarhum tetap komit dan gigih memperjuangkan gagasannya dialog penyelesaian masalah papua tidak pernah berhenti. Terakhir awal tahun 2018 Presiden Jokowi mengundang almarhum ke Istana Negara, menugaskan almarhum bersama Teten Masduki untuk mempersiapkan konsep dialog versi pemerintah. Namun tugas tersebut rupanya tidak pernah ditindaklanjuti .

Barangkali seluruh upaya dan jerih paya almarhum tentang dialog penyelesaian masalah Papua sudah sampai dititik tertinggi di tangan seorang presiden Republik Indonesia. Konsep dialog tersebut belum diimplementasikan, almarhum sudah keburu dipanggil Tuhan mendahului kita.

Semoga konsep dan gagasan almarhum tentang dialog penyelesaian masalah Papua tetap segar akan diteruskan oleh koleganya sesama pekerja kemanusiaan.■

*Paskalis Kossay adalah Tokoh Katolik Papua dan Politisi Senior Partai Golkar

Iklan
About Tribun Arafura (285 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: