Minggu Palma atau Minggu Sawit?

Tradisi Minggu Palma di Gereja Katolik.@Ist

Oleh : Everistus Kayep

TRADISI MINGGU PALMA/Palem dalam liturgi gereja Katolik (Kristen) adalah pembuka pekan suci untuk mengenang masuknya Yesus ke Yerusalem untuk disalibkan, dimakamkan dan bangkit dari antara orang mati. Perayaan ini merujuk pada kisah Yesus dalam empat Injil, yaitu Markus 11:1-11, Matius 21:1-11, Lukas 19:28-44 dan Yohanes 12:12-19.

Didalam tradisi ini, Yesus dikatakan masuk ke Yerusalem dengan menunggang seekor Keledai muda yang belum pernah ditunggangi orang. Penduduk Yerusalem menyambut-Nya dengan melambaikan daun palma berwarna hijau.

Menjadi tradisi sampai saat ini di setiap Minggu Palma, umat akan melambai-lambaikan daun palma sambil bernyanyi. Hal ini dilakukan untuk menyatakan keikutsertaan atau keterlibatan mereka mendampingi Yesus dalam arak-arakan menuju Yerusalem.

Tradisi Gereja menyebutkan, daun palma adalah simbol kemenangan yang, ketika dilambaikan, memiliki arti puji-pujian serta kemuliaan. Warna hijau pada daun palma menunjukkan warna tumbuh-tumbuhan dan musim semi. Merujuk pada tradisi Gereja Katolik, musim semi yang menggantikan musim salju merujuk pada kemenangan kehidupan atas kematian.

Minggu Sawit menggantikan Minggu Palma.@Ist

Daun Palma atau Daun Sawit?

KABUT RELIGIUS YANG menutupi tradisi Minggu Palma dalam Gereja bisa dibumikan sesuai konteks Papua. Hidup dalam tipu daya, peminggiran dan perampasan tanah untuk investasi perkebunan kelapa sawit, rakyat Papua seolah-olah terbius dengan berbagai khotbah di mimbar yang jauh, bahkan terkesan menutupi fakta eksploitasi.

Jika hijau daun palma dalam kisah Yesus melambangkan kemenangan kehidupan atas kematian, maka analoginya bagi Papua adalah kemenangan Investasi Perkebunan Kelapa Sawit, yang daunnya juga berwarna hijau, terhadap kaum pribumi Papua yang dikalahkan, dipinggirkan dan dijadikan obyek percobaan rekayasa sosial. Hijau daun palma juga menunjukkan kemenangan Investasi Perkebunan Kelapa Sawit terhadap buruh yang dieksploitasi keringat dan darah segarnya untuk menghasilkan akumulasi kapital bagi perusahaan.

Fakta saat ini, merujuk pada data Sawit Watch, total luas lahan Perkebunan Kelapa Sawit di Papua yang telah mencapai 958.094,2 hektar dengan 79 perusahan perkebunan pada tahun 2017 akan terus bertambah seiring dengan permintaan pasar terhadap CPO (Crude Palm Oil) dan kolaborasinya dengan Rezim Sawit Joko Widodo.

Fakta lainnya, bahwa seluruh perkebunan kelapa sawit di Papua dibuka dengan lebih dulu menipu atau merampas tanah adat milik masyarakat Adat Papua yang setiap tahunnya dan lebih istimewa pada Minggu 14 April 2019 ini, merayakan Minggu Palma secara meriah di tiap Gereja.

Jika tradisi minggu palma dalam liturgi gereja adalah penyambutan Yesus dan arak-arakan masuk kota Yerusalem untuk disalibkan, wafat dan bangkit mengalahkan kematian, maka fakta investasi kelapa sawit saat ini berkata lain. Lambaian hijau daun kelapa sawit ternyata telah mengalahkan pribumi Papua dengan melahirkan konflik pertanahan, hilangnya mata pencaharian masyarakat adat, kriminalisasi oleh perusahaan kepada masyarakat dan dampak terhadap lingkungan berupa banjir atau kebakaran hutan.

Selamat memasuki pekan suci melalui Minggu Palma, Selamat Berjuang melawan Perampasan Tanah oleh Investasi Perkebunan Kelapa Sawit dan Rezim Sawit Joko Widodo.■

Iklan
About Tribun Arafura (285 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: