Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Kedua)

Jenderal Abdul Haris Nasution adalah Jenderal Besar Indonesia. Teorinya tentang Perang Gerilya pernah dipakai oleh Gerilyawan Indonesia mengalahkan Belanda, Gerilyawan Vietcong mengalahkan tentara Amerika Serikat di Perang Vietnam dan Gerilyawan Fretilin mengalahkan Tentara Indonesia di Timor Leste.@Ist.

Sambungan dari Bagian Pertama

2. Perang Gerilya adalah Perang Si Kecil/ Si Lemah melawan Si Besar/Si Kuat

Jika suatu bangsa diserang dari luar, maka ia berusaha membela diri. Membela diri tidak berarti menangkis saja, menghindari diri daripada pukulan-pukulan, bukan, karena dengan demikian cuma secara pasif, musuh yang menyerang masih tetap kuat dan mampu untuk terus sepanjang masa menyerang. Membela diri itu harus berarti meniadakan ancaman dan pukulan selanjutnya, jadi untuk itu si penyerang dihancurkan, pokoknya dikalahkan.
Bangsa-bangsa yang demokratis pada lazimnya terpaksa berperang karena ia diserang, bukan ia yang mulai. Jika ia mempunyai angkatan bersenjata yang setara dengan agresor, artinya mempunyai organisasi atau kemampuan bertempur yang setara, maka dapatlah ia membela diri dalam suatu perang yang biasa. Biasanya si penyerang berkesempatan mendahului dalam hal persiapan sehingga ia datang dengan jumlah (kekuatan) yang lebih besar dan di tempat-tempat dan saat-saat yang kurang penjagaan, sehingga ia mendapat terus kemajuan pada tingkatan-tingkatan yang pertama.

Sebaliknya si terserang ketinggalan waktu, dan ia berusaha memburu waktu yang ketinggalan itu. Ia berikhtiar menahan lawan selama mungkin dengan mundur berangsur-angsur, sehingga baginya cukup waktu dan ruangan untuk mengerahkan dan menyusun tenaga yang cukup kuatnya (jumlahnya) untuk membalas dengan serangan kembali. Jadi selama sebelum tercapai tingkatan itu ia terus melakukan defensif, membela diri, dengan mengelakkan pukulan-pukulan musuh, sampai pada saat dan tempatnya, di mana ia telah cukup mengerahkan jumlah-jumlah (kekuatan) buat beralih kepada ofensif, kepada penyerangan. Karena akhirnya dengan ofensif, dengan menyerang inilah musuh dapat dikalahkan, artinya dibinasakan atau dihantam sedemikian sehingga ia putus harapan dan mengalah saja.

Akan tetapi waktu kita diserang oleh Belanda di tahun 1947, 1948, 1949 kita tak dapat berbuat demikian. Dalam tempo yang singkat musuh merebut semua kota yang penting dan jalan-jalan yang utama. Dan kita tidak mengumpulkan jumlah pasukan yang cukup untuk membalikkan arah serangan ke Jakarta dan memaksa Belanda bertekuk lutut, mengalah dengan tiada bersyarat. Bahwa ia akhirnya bersedia menarik tentaranya dari Indonesia, bukanlah karena dikalahkan oleh tentara kita, melainkan cuma karena dilelahkan dan dibuntukan oleh kita, sehingga tak ada harapannya lagi buat meniadakan Republik. Dalam kebuntuan ikhtiarnya itu maka oleh tekanan internasional dipercepatlah penyerahan kedaulatan itu.

Sesungguhnya TNI kita tidak setara dengan Belanda. Betul pada tahun 1945 banyak pemuda kita yang telah berlatih, di Jawa saja ada 60 batalyon Peta; betul kita rebut persenjataan dari Jepang cukup untuk beberapa divisi, namun kita tidak mampu mengorganisir tentara yang setara, bukan saja karena kurang waktu dan apalagi kurang keahlian melainkan lebih-lebih karena strategi nasional kita terlalu mengabaikan faktor-faktor strategi militer. Maka Belanda telah mampu 1½ tahun kemudian mengerahkan 130.000 tentara yang modern yang tak dapat kita imbangi, walaupun jumlah tenaga kita beberapa kali lebih besar daripada mereka. Kita terpaksa menghadapkan pasukan-pasukan yang tidak setara, yakni infanteri yang sangat sederhana, yang hanya mampu bertempur sebagai seksi atau kompi. Senjata berat kita telah hilang atau habis dalam pertempuran-pertempuran di kota-kota besar dan di pinggir-pinggirnya, pada waktu sebelum mulai peperangan yang sebenarnya.

Akan tetapi ini hanya kupasan dari kemudian; pada saat-saat itu mungkin pemerintah kita tak mengetahui persis jumlah peralatan yang kita oper, karena kita di daerah bertindak sendiri-sendiril. Pada saat itu sangat sulit bagi markas besar untuk menguasai kesatuan-kesatuan dan daerah-daerah yang mempertahankan “kedaulatan” masing-masing. Maka karena itu semua terpaksalah pertumbuhan tentara diserahkan dengan leluasa kepada keadaan dan perbandingan-perbandingan setempat, jadi tiada dengan suatu rencana pembangunan yang tertentu atas dasar rencana siasat yang tertentu pula, yang memanfaatkan tempo, tenaga dan senjata seefektif-efektifnya.

Maka oleh karena itu kita tak mampu menghadapkan tentara yang agak setara, sehingga kita harus melakukan semata-mata perang gerilya, tidak seperti misalnya di Tiongkok dan Vietnam, di mana di samping gerilya telah beraksi organisasi resimen-resimen dan divisi-divisi yang berangsur-angsur dapat jadi tenaga penggempur yang akhirnya merebut kota, sambil semakin mengusir musuh. Maka kita berperang gerilya bukanlah karena kita diharuskan, karena telah tidak mampu menyusun kekuatan yang berorganisasi sekadar modern, yang setara. Maka gerilya kita pun baru pada tingkatan melelahkan musuh, belum sampai dapat menghancurkannya walaupun bagian demi bagian.

Maka karena itu pula, mungkin tiadalah pimpinan negara mempercayakan penyelesaian sepenuhnya kepada tenaga militer, melainkan senantiasa memilih cara politik, yang mencari persesuaian dengan musuh, dengan mengancam bayangan momok perang gerilya serta bumi hangus dan tekanan politik internasional.

Lain jadinya dengan sejarah gerakan merah di Tiongkok dan perang Viet-Minh di Indo Cina, di mana dengan tiada kompromis dilakukan perang buat mengalahkan musuh, di mana divisi-divisi berangsur-angsur tersusun untuk setaraf demi setaraf mengusir musuhnya. (Bersambung ke Bagian Ketiga)

Iklan
About Tribun Arafura (215 Articles)
Media Online

1 Trackback / Pingback

  1. Pokok-Pokok Gerilya AH Nasution (Bagian Pertama) – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: