Pemuda Marind Suarakan Gerakan Akbar Reformasi Hukum di Tanah Papua, Kasus Souvenir Kulit Buaya Jadi Pintu Masuk

Ketua DPP Pemuda Marind Fransiskus Ciwe, SE.@Tribun-Arafura.com

MERAUKE, Tribun-Arafura.com — Tanggal 9 Agustus ditetapkan sebagai Hari Pribumi Internasional. Khusus di Tanah Papua dilihat sebagai pulau besar yang kosong tanpa penghuni. Kondisi inilah yang kemudian oleh masyarakat adat dari 7 wilayah adat di Tanah Papua serentak turun jalan untuk menyatakan Pulau Besar ini ada penghuninya.

Ketua Dewan Pengurus Pusat (DPP) Pemuda Marind, Fransiskus Ciwe, SE mengatakan, apa yang disuarakan oleh masyarakat adat di Tanah Papua itu, bahasa paling sederhana. Mereka masih memilih kalimat bijak untuk menyuarakan haknya di hari pribumi Internasional.

“Yang sebenarnya itu, masyarakat adat dari tujuh wilayah adat sebagai pribumi di Tanah Papua ingin bilang luka di hati kita sudah terlalu sakit, karena tidak pernah diobati justru terus digores. Tanah kita diambil di depan mata, hutan kita diambil, hasil kekayaan alam kita diambil tanpa bicara pada kita. Kenyataan yang ada, bicara saja sudah syukur. Ini permisi saja tidak ada sama sekali dan seenaknya saja diambil. Apalagi yang masih tersisa buat kita, saya berani bilang sudah tidak ada lagi yang tersisa,” kata pria yang akrab dipanggil Sisko Ciwe.

Bahkan milik kita yang paling pribadi yaitu pelita harapan pun turut pula ingin dipadamkan. “Pelita harapan bagi kita orang Papua adalah pemimpin kita, yang dekat bersama kita, yang tahu tangisan kita. Itupun ingin dirampas tanpa melihat keberhasilan yang telah dilakukan selama ini,” kata Sisko Ciwe.

Fenomena ini begitu terlihat nyata, kata Ciwe, pemimpin kami yang selama kepemimpinannya mampu membawa perubahan justru yang paling pertama akan dihabisi. Namun kalau pemimpin yang arogan, angkuh dan bekerja dengan cara-cara mafia akan dilindungi, padahal mungkin saja dia bukan Orang Asli Papua.

“Ini maksudnya apa. Ini bukan hanya terjadi di Selatan Papua, fenomena ini hampir diseluruh tanah Papua terjadi, tapi kurang terdengar,” kata Sisko Ciwe

Silahkan buka semua data di Tanah Papua, kata Sisko Ciwe, fenomena ini akan terlihat jelas. Bupati yang memimpin daerah selama dua periode yang penuh krismastik dihancurkan setelah turun dari jabatannya dengan persoalan hukum. Tujuannya adalah, sambung Ciwe, untuk mengiring opini bahwa anak-anak adat Papua tidak mampu memimpin daerahnya.

Sekarang ini, lanjut Ciwe, kami Orang Asli Papua dari wilayah adat Domberai hingga Ha Anim tidak akan diam lagi. Api harapan kita orang Papua harus tetap menyala. Sebab dari situlah jalan bagi kita untuk bisa sedikit mengobati luka yang sudah kronis.

“Kasus Souvenir Kulit Buaya akan kami jadikan pintu masuk untuk menyuarakan Reformasi Hukum di Tanah Papua,” kata Ciwe.

Sebagaimana diketahui, Kasus Souvenir Kulit Buaya adalah kasus yang terkesan dipaksakan, terkesan manipulatif dan sarat mafia hukum yang bertujuan mengkriminalisasi dan membunuh karakter Tokoh Papua John Gluba Gebze.

Lebih lanjut Ciwe mengatakan, untuk menjadi Bupati atau Gubernur selama dua periode di seluruh tanah Papua itu tidak gampang, lantas seenaknya ingin dihancurkan tanpa melihat penghargaan dan keberhasilan selama memimpin.

“Silahkan rekan-rekan wartwan cek ke masyarakat dari Kondo sampai Digoel bahkan sampai ke tiga kabupaten di Selatan Papua, sosok John Gluba Gebze selama memimpin kabupaten Merauke dua periode apa saja yang sudah dilakukannya. Dan apakah masyarakat merasakan sentuhan pembangunannya dalam slogan Izakod Bekai Izakod Kai,” harap Ciwe.

Ciwe menambahkan, Pemuda Marind akan duduk bersama seluruh masyarakat adat dari 7 wilayah adat di Tanah Papua untuk bersama menyuarakan ini. Pemimpin yang berprestasi dan menerima banyak penghargaan dari negara wajib untuk bersama semua elemen masyarakat lindungi. Kalau pemimpin yang hanya memperkaya dirinya sendiri wajib pula diadili.

“Bapak John Gluba Gebze adalah mantan bupati dua periode yang paling miskin. Sekarang saja, beliau malah menjadi petani untuk mendukung program nasional di atas lahannya sendiri. Jadi kami mau tegaskan jangan lagi pemimpin Papua yang penuh karismatik dibungkam. Saya juga mau bilang pemuda-pemudi Marind yang punya mimpi ingin jadi pemimpin harus sadar ini. Kita akan mulai gerakan besar dari kampung untuk menghancurkan upaya kriminalisasi terhadap pemimpin-pemimpin diatas Tanah Papua yang seluruh pikiran dan jiwa raganya tercurah untuk masyarakatnya,” tandasnya. Lantas ketika ditanya kenapa baru sekarang, Ciwe bilang inilah waktu yang tepat untuk itu. Waktu lalu mungkin bukan momentumnya. [PSP/TA]

Iklan
About Tribun Arafura (156 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: