Surat Pendeta Trevor Johnson untuk drg. Aloysius Giay dan dr. Silwanus Sumule

Pdt Trevor Johnson sedang melayani penderita gizi buruk di Korowai, Boven Digoel, Papua.@Ist

Kepada drg. Aloysius Giay dan dr. Silwanus Sumule,

Saya Pendeta Trevor Johnson dari kampung Danowage, wilayah utara Korowai. Saya ingin berterimakasih dari lubuk hati yang terdalam untuk semua bantuan dan dukungan anda. Papua bisa maju dan bersama kita bisa membantu kemajuan Papua!

Dengan surat ini saya ingin mengucapkan terima kasih untuk bantuan anda bagi saya.

Saya telah melayani di wilayah Korowai sejak 2007. Saya telah menghabiskan sekitar 5 milyar dari dana pribadi saya dan juga dari gereja-gereja di Amerika Serikat dan Indonesia untuk menyediakan pelayanan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat Korowai.

Saya sangat berterimakasih untuk bantuan yang semakin meningkat dari pemerintah yang saya alami 2-3 tahun belakangan ini; saya juga berterima kasih khususnya untuk bantuan anda dan bantuan dari Dr Yusus Wona juga.

Saya percaya pemerintah dan gereja-gereja di Papua bisa bekerjasama dengan baik sampai ke daerah yang terpencil sehingga masyarakat pedalaman Papua tidak menderita.

Sepanjang sejarah Papua, sekolah dan klinik cukup banyak dimulai oleh misionaris dan gereja-gereja untuk membantu masyarakat pedalaman. Dimanapun pemerintah masuk, disana gereja dan misionaris sudah merintis jalan. Misionaris membuka sekolah dan membantu yang sakit.

Saya tidak melakukan hal yang baru, saya hanya meneruskan satu tradisi yang baik. Kami bersyukur atas bantuan dari pemerintah; tapi ini bukan berarti gereja tidak lagi memiliki ruang dalam pelayanan. Masih terlalu banyak tempat yang perlu dibantu dan kita memerlukan semua bantuan yang bisa kita dapat, baik dari gereja maupun dari pemerintah.

Namun di tahun 2018, saya menerima kritik karena melakukan hal yang sama yang selalu dilakukan misionaris. Saya berusaha melakukan kebaikan demi masyarakat pedalaman, tapi ada beberapa orang yang tersinggung dengan aktifitas saya. Beberapa orang ingin saya dideportasi atau membebankan denda pada saya. Mungkin mereka mendatangi anda juga untuk mengkritik saya atau menanyakan pertanyaan-pertanyaan kepada anda tentang saya.

Ada 3 kemungkinan kenapa ada orang-orang yang mengkritik pelayanan kesehatan yang saya lakukan:

(1) Pertama, adanya kemungkinan bahwa saya akan memberikan perawatan kesehatan dengan buruk atau saya tidak berkompeten. Namun, saya pikir bukan ini alasannya. Saya dan istri saya adalah perawat yang sudah terdaftar secara sah di Amerika Serikat dan kami memiliki pengalaman sebagai perawat selama bertahun-tahun. Kami cukup yakin bahwa kami dapat lulus ujian keperawatan apapun di Indonesia (kecuali jika istilah-istilah medis ditulis dalam Bahasa Indonesia dan bukan Bahasa Inggris). Terutama istri saya, dia seorang perawat yang sangat kompeten. Dan saya tidak bermaksud untuk merendahkan tingkat pelayanan kesehatan di Indonesia, tapi secara keseluruhan, perawat-perawat di Amerika terlatih dengan cukup baik dibandingkan perawat-perawat di Indonesia. Saya cukup yakin kami mengerjakan pekerjaan yang berkualitas di kawasan Korowai Utara.

(2) Yang kedua, ada kemungkinan bahwa orang-orang mengkritik pelayanan kesehatan yang saya lakukan di wilayah Korowai karena setiap foto dari orang Korowai yang sakit menunjukkan ketidakhadiran pemerintah di daerah-daerah tersebut. Beberapa orang merasa malu melihat foto orang-orang sakit di Korowai. Banyak yang bertanya “Kenapa tidak dibantu oleh Pemerintah?” sehingga beberapa orang merasa dipermalukan dengan laporan saya mengenai betapa buruknya daerah Korowai. Tapi jika wilayah tersebut benar-benar dalam krisis, maka hal itu harus dilaporkan, jangan ditutup-tutupi. Kalau ditutup-tutupin, krisis tersebut akan terkuak seperti yang terjadi di wilayah Asmat. Lebih baik kita menyingkapkan kenyataan dan betapa berat pergumulan yang dihadapi untuk mengubah keadaan. Bersama kita dapat menjangkau seluruh kawasan Korowai.

(3) Ada kemungkinan ketiga mengapa ada orang yang mengkritik pelayanan kesehatan saya, karena mereka mau membuat masalah untuk saya.
Dapat diamati bahwa saya tidak mendapatkan kritik apa-apa sampai saya mulai membuat laporan mengenai adanya penambangan emas secara illegal di kawasan Korowai. Menurut saya, saya telah membuat pihak-pihak yang terlibat dalam penambangan emas tersebut marah. Penambangan emas ilegal itu bukan hanya sebuah pelanggaran HAM, tapi juga menyangkut masalah kesehatan dimana terdapat bukti yang sangat kuat yang menunjukkan bahwa para pencari emas menggunakan bahan kimia yaitu zat Merkuri dan membuangnya ke sungai; sementara kita tahu bahwa masyarakat Korowai bergantung pada sungai sebagai tempat mencari makanan dan untuk mandi. Oleh karena itu, kita harus menghentikan penambangan emas ilegal karena itu bukan hanya pelanggaran terhadap HAM tapi juga pasti mengakibatkan permasalahan kesehatan. Zat kimia Merkuri dapat membunuh udang dan ikan dan juga dapat menyakiti orang-orang. (Untuk membantu kesehatan bagi orang-orang Korowai, kita harus menghentikan penambangan emas ilegal.)

Tapi saya mendengar minggu lalu dari seorang pendeta yang adalah teman saya yang bekerja di kantor pemerintahan bahwa Intel sedang mencari-cari alasan bagaimana supaya bisa mendeportasi saya. Saya rasa mereka ingin membungkam saya mengenai perihal penambangan emas ilegal. Teman saya itu mengatakan bahwa ia secara tidak sengaja mendengar seseorang di kantor itu berkata, “mungkin kita bisa pakai pesawat langsung ke Danowage dan tangkap mereka dan langsung deportasi mereka.”

Bukanlah hal rahasia bahwa penambangan emas ilegal dan penebangan hutan ilegal masih ada di Papua. Bukan satu rahasia juga bahwa oknum dalam Kepolisian, oknum dalam TNI dan politisi bertindak sebagai “tangan yang tersembunyi” dibalik kerusakan ini. Tapi sebagai seorang Kristen saya tidak bisa diam ketika diperhadapkan dengan ketidakadilan. Saya tidak punya pilihan lain selain berbicara lantang dan saya tidak akan mau diintimidasi.

Jika kita menerangi korupsi dan kerusakan di Indonesia maka mereka akan berserakkan dan bersembunyi atau menghentikan aktifitas mereka, sama seperti ketika kita menerangi kecoak atau tikus. Bersama-sama kita bisa menjadikan Papua bersih dari korupsi dan sehat bagi semua penghuninya, termasuk yang paling miskin dan yang paling terpencil. Saya bukanlah musuh pemerintah tapi saya sebagai mitra pemerintah karena kita memiliki tujuan yang sama, yaitu untuk membantu wargan egara Indonesia untuk hidup lebih sehat.

Saya bukan ingin mengkritik pemerintah, dan saya tidak pernah mengkritik pemerintah. Presiden kita yang baik sedang memerangi korupsi dengan berani dan oleh karena itu saya yakin dia akan mendukung semua usaha memerangi korupsi di Papua dan untuk memerangi penambangan emas ilegal.

Saya hanya mendorong beberapa isu yang berkenaan dengan kesehatan supaya proses yang sedang berjalan akan semakin baik. Saya berdoa dan mendukung semua pejabat pemerintahan di Papua dan seluruh Indonesia. Saya berbicara dengan lantang mengenai beberapa hal bukan karena saya membenci Indonesia dan pemerintahannya dan masyarakatnya; sebaliknya, saya berbicara dengan lantang karena saya mengasihi Indonesia, pemerintah dan masyarakatnya.

Saya ingin melihat Indonesia makin maju.
Jika anda bisa dengan segera memberikan Surat Ijin bagi saya untuk melaksanakan pelayanan kesehatan, ini dapat mencegah kritik-kritik menjatuhkan ditujukan kepada saya oleh orang-orang yang menginginkan saya dideportasi.

Saat ini ada beberapa pihak yang mengatakan bahwa saya tidak punya ijin resmi untuk menangani yang sakit atau memberikan obat kepada yang sakit di wilayah Korowai. Dan ya, saya akui ini benar. Saya tidak pernah berusaha menyembunyikan fakta ini. Saya adalah seorang rohaniawan pemegang Kitas.

Tapi bagaimana mungkin saya tolak orang sakit dan tidak beri mereka pertolongan? Kadang tidak ada pihak lain yang ada untuk bantu mereka. Saya tidak bisa membiarkan mereka mati. Saya percaya kritik-kritik datang dari mereka yang sama sekali tidak memperdulikan mereka yang sakit di wilayah saya. Yang mereka inginkan hanyalah supaya saya tidak lagi berada di Danowage sehingga saya tidak bisa lagi melaporkan kegiatan ilegal mereka yaitu penambangan emas ilegal. Mereka mau saya pergi sehingga mereka dapat memperkaya diri dari kekayaan Tanah Korowai, walaupun suku Korowai harus menderita dan mati karena kemiskinan.

Sementara saya sedang berjuang mencari dana untuk menggunakan helikopter untuk melayani orang sakit, saya dengar ada setidaknya 1 helikopter yang siaga di bandara Dekai untuk mengangkut para penambang emas. Ini membuat saya marah bahkan saat saya hanya menulis tentang ini.

Aliktab dalam Amsal 14:31 berfirman bahwa, “Siapa menindas orang yang lemah, menghina Penciptanya, tetapi siapa menaruh belas kasihan kepada orang miskin, memuliakan Dia.”

Kemudian Amsal 29:7 melanjutkan, “Orang benar mengetahui hak orang lemah, tetapi orang fasik tidak mengertinya.”

Dan Firman Tuhan mendorong kita dalam Amsal 31:8, “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana. Belalah mereka yang tak dapat membela dirinya sendiri. Lindungilah hak semua orang yang tak berdaya.”

Saya mencoba sebaik mungkin untuk mengikuti Firman Allah. Terima kasih karena anda membantu saya dalam pergumulan ini. Bersama kita bisa memberkati masyarakat di Korowai.
Terima Kasih, God bless you for your help!

Pendeta Trevor Johnson

Iklan
About Tribun Arafura (170 Articles)
Media Online

1 Trackback / Pingback

  1. Surat Pendeta Trevor Johnson untuk drg. Aloysius Giay dan dr. Silwanus Sumule – Tribun Arafura – PAPUA MAJU MAKMUR

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: