Mengedepankan Kejujuran Pada Pilkada Papua : Kekerasan di Papua Bisa Ditekan

Marthen Goo, Aktivis Kemanusiaan.@Tribun-Arafura

Oleh : Marthen Goo*

Ini tahun Politik Pilkada dan tentu persaingan dari kandidat yang dinyatakan lolos dan jadi daftar tetapi tentu bergerilya dengan strategi dan taktiknya untuk meyakinkan sebanyak mungkin orang untuk memilihnya. Dan tentu dalam semangat itu, kejujuran harus jadi spirit bersama. Kejujuran tentu bisa melahirkan Demokrasi yang baik di Bumi Cenderawasih.

Untuk melahirkan kejujuran, maka, semua pihak harus turut serta memelihara prinsip kejujuran tersebut. Pihak-pihak yang wajib mengedepankan kejujuran dan menjaga kejujuran itu tetap dilaksanakan adalah KPU, Bawaslu, Kepolisian, Tim-Sukses dan Rakyat pemberi suara, serta saya dan anda sekalian sebagai pribadi pemberi suara.

Untuk menciptakan kejujuran, maka, penyelenggara harus menempatkan posisi sebagai pihak penyelenggara yang netral. Atau pihak keamanan juga wajib menjaga situasi aman dan demokratis tanpa memiliki keberpihakan pada kandidat tertentu. Barangkali saya dan anda juga diharapkan menjadi pribadi yang bisa juga menciptakan kejujuran tersebut.

Suasana aman dan damai pra, saat dan pasca Pilkada harus didasari oleh kejujuran. Tentu kejujuran itu tergolong atas “kejujuran dalam penegakan aturan hukum, kejujuran dalam memberikan informasi, kejujuran dalam menghormati sesama, kejujuran atas diri sendiri untuk siap menang dan kalah”.

Menyebarkan Informasi Dalam Kebutuhan Dukungan

Selalu kita melihat kasus dimana setiap orang yang hendak maju, baik dari tim sukses atau pendukungnya akan selalu memainkan opini dari prespektifnya masing-masing. Tentu Opini itu bisa opini yang benar adanya maupun opini yang kebenarannya tidak ada atau patut dipertanyakan. Terkadang kita belum menyadari dari lubuk hati bahwa menyampaikan pembohongan publik adalah penipuan dan bahkan mengadakan hal yang tidak adalah fitnah.

Atas peristiwa kemungkinan adanya fitnah dan pembohongan, maka, kita semua harus menyepakati bahwa, kejujuran itu penting. Dan jika hal itu telah disepakati, maka, hal itu harus jadi gerakan dan perilaku hidup.

Kita harus menyadari juga bahwa kita diuji kepribadian dari hal kejujuran untuk hal besar lainnya. Benah diri diuji dalam situasi ini.

Kita harus tahu bahwa rakyat itu sudah tahu siapa pemimpin yang menurut mereka adalah tepat di hati mereka. Jika mereka sudah tahu, tentu akan sangat berdosa ketika kita meracuni hati rakyat dengan informasi tidak benar atau menyampaikan bahasa fitnah hanya untuk kepentingan pribadi kita yang bersifat sesaat itu.

Rakyat Tahu Siapa Yang Layak Ia Pilih

Rakyat di Papua sudah tahu siapa yang layak mereka harus pilih. Sehingga kita harus hati-hati menyampaikan informasi yang salah atau yang kebenarannya belum tentu pasti. Rakyat tentu wajib diberikan informasi yang benar, yang kita sudah tahu dan terukur kebenarannya agar adanya penyerapan informasi benar tapi juga sekaligus menjadi pendidikan politik.

Apa ukuran rakyat sudah tahu kandidat yang maju Gubernur:

(1). Lukas Enembe adalah mantan Gubernur Papua dan pernah jadi Wakil Bupati dan Bupati Puncak Jaya;

(2). Jhon Wempi Wetipo adalah mantan Bupati Jayawijaya;

(3). Klemen Tinal adalah mantan Bupati Mimika dan Mantan Wakil Gubernur Papua;

(4). Habel Melkias Suwae adalah mantan Bupati Jayapura.

Ke-empat nama itu sudah diketahui publik di Papua (setidaknya masing-masing orang dari keempat itu sudah diketahui mayoritas penduduk Tanah Papua).  Mereka pernah jadi pemimpin daerah. Rakyat sudah jauh mengenali mereka masing-masing dengan apa yang sudah mereka lakukan untuk Papua. Rakyat memiliki ukuran dalam menilai dan melihat mereka. Dan tentu, penilaian rakyat selalu dengan kedalam hati yang tulus.

Dalam ruang tersebut, kita diharapkan menjelaskan apa yang rakyat tidak tahu dari apa yang benar-benar kita tahu dan jika kita tidak tahu, wajib mengatakan kita tidak tahu agar tidak turut serta menyebarkan fitnah. Ini moumen yang baik agar kita saling membagi dan saling berbenah diri untuk mengedepankan semangat kejujuran.

Harus Dewasa Dalam Memilah Konteks

Kita ditantang untuk membedakan konteks soal Hak memilih, kepentingan pribadi, dan demokrasi. Jika setiap orang memiliki hak untuk memilih, kita juga harus berjiwa besar untuk hargai hak pilih orang tersebut.  Dalam keputusan memilih tersebut, kita juga wajib berjiwa besar menerima pilihan pribadi, sekalipun itu pilihan anak adalah B, sementata kita adalah A. Tentu kita tidak bisa memaksakan hak atas keinginan. Semengat kejujuran yang lahir dari ketulusan memilih tak hanya melahirkan demokrasi saat itu, tapi jika diulang-ulang akan menjadi kebiasaan umum.

Kita diwajibkan mampu membedakan antata keinginan dan hak, agar keinginan tidak memaksa hak untuk memilih sesuatu yang bukan menjadi hak kita. Tentu bentuk penghargaan itu yang selanjutnya dikenal dengan demokrasi.

Dalam hal itu, maka, kepentingan pribadi tidak boleh merusak hak memilih seseorang. Dan dengan menghargai hak pilih orang lain, tentu kita turut serta memelihara dan menciptakan suasana demokrasi yang lebih baik di tanah Papua.

Kejujuran Menghapus Konflik

Dengan kita selalu jujur, maka, kita akan menghapus konflik pilkada selama ini. Karena kejujuran tentu bisa menembus dalamnya rerung hati semua, apalagi rakyat yang selalu merindukan kejujuran dan kebenaran yang demokratis di Papua. Minimal proses dari kejujuran ini bisa melepas satu persatu konflik dalam pilkada seperti melepas kecurigaan antara penyelenggara pilka dengan para kandidat atau terhadap pendukungnya.

Jika kejujuran bisa menghapus konflik, maka, kita sebagai para pihak sudah bisa menentukan sikap soal keinginan untuk hindari konflik atau tetap dalam dunia konflik. Di sini kita ditantang untuk jadi pribadi yang anti konflk dan menjunjung tinggi demokrasi berdasarkan kemanusiaan.

Harapannya, kita sekalian menjadi pribadi yang mampu menjadikan kejujuran sebagai prilaku hidup untuk mengurai konflik di negeri cenderawasih.

Semangat kejujuran dalam pilkada bisa menjadi spirit dalam kelanjutan pilkada lanjutan, dan semua pribadi maupun institusi bisa turut serta memelihara kejuhuran dalam pelaksanaannya.

Mari memulai menjadikan kejujuran sebagai perilaku hidup.

*Marthen Goo adalah Aktivis Kemanusiaan

Iklan
About Tribun Arafura (121 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: