La Nina dan El Nino (Catatan untuk Presiden Jokowi dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan)

Natalius Pigai. @Ist.

Oleh : Natalius Pigai

Nenek moyang kita telah mengajarkan tentang relasi dengan Alam dalam sejarah panjang evolusi manusia bahwa Banjir dan Kekeringan adalah fenomena alam yang senantiasa datang dan pergi silih berganti. Di musim panas gejala El Nino mengancam ekosistem dan kehidupan, di musim hujan La Nina mampu memporak-poranda milieu (lingkungan) dimana manusia huni, lahir, tumbuh dan berkembang. Kedua fenomena alam ini bisa menjadi murka ketika alam tidak bersahabat, tetapi juga berkat dikala alam lagi riang. Semua bergantung manusia!

Di Amerika Serikat dan Eropa El Nino bisa memiliki efek positif peningkatan kegiatan ekonomi. Demikian juga La Nina, hubungan antara curah hujan dan produktivitas pertanian yang konsisten juga memiliki dampak terhadap kesehatan sepeti El Nino telah dikaitkan dengan efek signifikan pada polusi udara di China Timur.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature menemukan bahwa El Nino mungkin memiliki peran dalam 21 persen dari semua konflik sipil antara tahun 1950 dan 2004, dan bahwa konflik sipil baru di daerah tropis dua kali lebih mungkin timbul pada masa El Nino ketimbang La Nina.

Para peneliti menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dari El Nino, dan juga stres akibat bencana alam yang disebabkan El Nino, dapat menekan jiwa manusia, yang terkadang bisa menyebabkan perilaku agresif.

Salah satu efek utama yang terkait dengan El Nino adalah meningkatnya potensi kebakaran di Indonesia juga seperti peristiwa legendaris, Ash Wednesday (abu di hari rabu) pada tahun 1983 dikaitkan dengan El Nino di Australia. Atau peristiwa Black Saturday (2009) terjadi di akhir sebuah La Nina (ABC News/Detik, 19/10/2017). Atau di Indonesia banjir senantiasa mengancam saat musim hujan.

Di masa lalu manusia dan alam adalah sahabat abadi, saling butuh dan saling bergantung. Manusia hidup karena memanfaatkan segala jenis binatang, burung-burung di udara, ikan-ikan di laut, tumbuh-tumbuhan dan segala isinya, demikian pula Alam tidak akan berguna jika tanpa manusia bahkan saling menguntungkan, simbiose mutualisme.

Masyarakat pedesaan adalah manusia yang hidup secara autarkis, hidup dari alam (taken for granted). Alam tidak hanya sekedar sumber kehidupan tetapi juga alam menjadi sumber suci, pusat spiritualitas, sumber transendental antara manusia dan Tuhan pencipta semesta alam. Namun kini telah berubah. Alam hadir ibarat momok yang menakutkan, bak monster Leviathan. Mendengar kata Banjir dan kekeringan seakan-akan mengancam kehidupan manusia. Banjir kita selalu berasosiasi tindakan murka alam, alam bertindak negatif, alam melakukan kejahatan pada manusia.

Alam pikir manusia tersandera dengan framing negatif tentang banjir yang mendatangkan kerugian, dampak negatif yang ditimbulkan. Tetapi tidak pernah melihat banjir sebagai fenomena alam yang membawah berkah, dampak positif sebagai konsekuensi dari siklus hidup manusia dalam berinteraksi dengan alam.

Berbagai laporan pemerintah selalu menghitung dampak kerugian yang diderita akibat banjir. Pada tahun 2000 hingga 2001 mencatat kerugian akibat banjir mencapai Rp 1,5 Trilyun. Bahkan Kementerian Sosial mencatat kerugian akibat banjir adalah dua per tiga dari kerusakan dan kerugian akibat bencana alam lainnya (kompas, 6/3/2001) berdasarkan laporan Depsos, 1994.

Di tingkat Internasional, FAO mencatat Penggundulan hutan akibat bencana 1,3 juta hektar pertahun.

Itulah cara pandang kita terhadap alam. Tidak pernah menghitung atau melihat dampak positif akibat banjir. Wajar, bila cara pandang manusia terhadap alam yang negatif menyebabkan murka.

Pemerintah, politikus, pengamat, kaum terdidik mesti memahami, mengapa rakyat Kecil, miskin dan kumuh penghuni bantaran sungai masih mau menetap dan menolak untuk direlokasi meskipun bahaya mengancam kehidupan? Mereka tidak hanya sekedar para kaum urbanisasi, atau migran juga bukan migran sirkuler perkotaaan, juga bukan manusia tanpa hunian (tuna wisma) tetapi mereka mendapat manfaat positif hidup dibantaran sungai dan menerima manfaat karena banjir.

Penghuni aliran sungai menerima manfaat dalam berbagai aspek; ekonomi, interaksi sosial dan budaya juga kemudahan dan aksesibilitas dalam menunjang kehidupan yang mungkin tidak banyak diketahui publik.
Kita semua tersandera dengan stigma buruk tentang musim hujan (La Nina) dengan bahaya banjir dan musim kemarau (El Nino), bahaya kebakaran hutan. Suatu Stigma buruk manusia modern terhadap alam. Sudah saatnya arus balik pemikiran manusia masa lampau bahwa musim hujan dan musim kemarau adalah berkah bukan murka.

Oleh karena itu, cita rasa masyarakat yang hidup di aliran sungai perlu direkayasa agar Daerah Aliran Sungai menjadi menarik, artistik, modern, humanis.

Jakarta adalah Jendela Indonesia, Kota Metropolitan dihuni lautan manusia mencapai 10 juta pada malam hari dan 12 lebih di siang hari. Pusat urbanisasi dan anglomerasi perkotaan, perkembangan kota besar hingga 3 lingkaran besar, lingkaran dalam kota (inner city), lingkaran tengah (centre ), lingkaran luar (outer city). Situ-situ (danau) di Jabodetabek sebagai tempat penampungan air juga tidak tertata rapi bahkan banyak rumah kumuh, sekedar membuat pintu air masuk dan keluar.

Problematika Ibu Kota Negara harus menjadi beban bersama baik pemerintah Pusat dan Provinsi. Negara ini tidak harus malu belajar dari kota kota besar di Asia Timur seperti Beijing, Tokyo, Seoul, atau Amsterdam, London, Paris di Eropa dan New York di Amerika, bahkan New Delhi di India maupun Bogota dan Rio de Janeiro di Amerika Latin juga Kuala Lumpur di Malaysia.

Tiga Belas buah sungai yang mengalir di Kota Metropolitan Jakarta yang memiliki sumber daya, kekuasaan sebagai Ibu Kota Negara, Anggaran yang melimpah tidak sulit untuk menatanya menjadi modern.

Pemerintah Pusat dan DKI Jakarta sudah saatnya memikirkan agar 13 sungai di DKI Jakarta dibangun kanal-kanal besar dengan rumah-rumah yang artistik bagi penduduk, fasilitas umum, sanggar-sanggar seni, tempat-tempat rekreasi yang humanis dan ramah lingkungan agar aliran sungai tidak menjadi momok yang menakutkan tetapi menjadi tempat yang menarik baik dikala musim El Nino tetapi juga di musim hujan La Nina.

*Penulis adalah Staf Khusus Menakertrans Republik Indonesia 1999-2005

Iklan
About Tribun Arafura (156 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: