Masyarakat Kati-Wambon dan Tokoh Adat Menolak Pembangunan PLTA di Sungai Kao Kabupaten Boven Digoel

Masyarakat Adat Kati-Wambon atau Muyu-Wambon menolak rencana Pembangunan Bendungan untuk PLTA di Sungai Kao, Distrik Woropko dan Ambatkuy Kabupaten Boven Digoel, Papua.@Tribun-Arafura.com

TANAH MERAH, Tribun-Arafura.com — Masyarakat Kati-Wambon atau Muyu-Wambon menolak rencana pembangunan bendungan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berkapasitas 65,13 Mw oleh Pemerintah dan PT Aditya di Sungai Kao yang meliputi distrik Woropko dan distrik Ambatkuy Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Penolakan masyarakat Kati-Wambon dinyatakan dalam sebuah rapat di kediaman Ketua Dewan Adat Koleyombin Bapak Hilarius Akyap belum lama ini di Tanah Merah, Boven Digoel, Papua.

Sikap masyarakat Kati-Wambon ini mendapat dukungan dari Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Kabupaten Boven Digoel, Dewan Adat Koleyombin dan Dewan Adat Kati.

Ketua LMA Kabupaten Boven Digoel Maret Klaru pada pertemuan itu menjelaskan, awalnya dia didatangi dua karyawan PT Aditya, Evendy dan Slamet, yang menjelaskan rencana Pembangunan bendungan untuk PLTA dimana PLTA ini akan menerangi beberapa Kabupaten. Percaya dengan kata-kata dua orang ini, Maret Klaru kemudian memberikan rekomendasi LMA.

“Awalnya kedua karyawan PT Aditya mendatangi rumah saya lalu mereka menjelaskan Pembangunan PLTA ini guna menerangi beberapa kabupaten diantaranya Merauke, Boven Digoel dan Pegunungan Bintang sehingga saya menanggapi kemudian saya mengeluarkan rekomendasi kepada pihak perusahaan,” kata Maret Klaru.

Selang beberapa minggu kemudian, lanjut Maret Klaru, dia mendapat informasi terakhir bukan hanya Pembangunan PLTA melainkan PT Aditya akan melakukan Eksplorasi dan Eksploitasi hasil alam seperti Emas, Batu Bara dan bahan tambang lainnya di tempat-tempat keramat (tempat pemali).

“Sehingga selaku Ketua LMA saya mendukung penolakan oleh Masyarakat Kati-Wambon dan bersikap keras tolak Pembangunan PLTA berkapasitas 65,13 Mw ini,” tegas Klaru.

Sikap penolakan juga ditegaskan oleh Ketua Adat Koleyombin Bapak Hilarius Akyap. Dia menegaskan bahwa sungai Kao bukan hanya sungai biasa melainkan memiliki kisah mitologi tersendiri oleh para leluhur maka saat ini dianggap tempat keramat atau tempat pemali.

Senada dengan Maret Klaru dan Hilarius Akyap, Ketua Adat Kati Bapak Agustinus K. Warumgi dan Tokoh Adat Kati lainnya Bapak Oktovianus Dewak menegaskan rencana proyek PLTA ini akan dilaksanakan tepat diatas tempat-tempat sakral sehingga harus ditolak.

Menurut keduanya, rencana pembangunan PLTA ini menyasar tempat-tempat sakral yaitu Wanik Mogot, Yinimutu Motkom, Anonggan, Ayam, Takperep, Sambet Mbom, Umukit, Onongndum dan Koreom.

“Maka dengan sikap yang tegas kami menolak PLTA. Ini adalah tempat keramat dan akan merugikan anak cucu kami. Kami tidak mau ditipu seperti PT Freeport dan PT Korindo,” pungkas Hilarius Akyap.

Beberapa kampung yang masuk wilayah sakral dan akan terkena dampak langsung dari pembangunan PLTA ini adalah kampung-kampung Woropko, Wombon, Upkim dan Ikcan di Distrik Woropko dan kampung-kampung Anyumka dan Kuken di Distrik Ambatkuy.

Di akhir pertemuan penolakan rencana pembangunan bendungan PLTA ini masyarakat dan tokoh adat membubuhkan tanda tangan penolakan dan foto bersama.

Rencana pembangunan bendungan untuk PLTA di Sungai Kao pertama kali diumumkan oleh Kepala Balai Wilayah Sungai Papua, Merauke, Nimbrot Rumaropen.

“Perencanaan pembangunan bendungan sejak tahun ini hingga 2018. Bendungan ini memiliki daya 65,13 Megawatt, dan akan dibangun di Distrik Waropko. Daya tersebut diharapkan mampu melayani kebutuhan listrik di wilayah Selatan Papua,” kata Nimbrot Rumaropen kepada Metromerauke.com pada 30 Oktober 2017. [MM/TA]

Iklan
About Tribun Arafura (156 Articles)
Media Online

1 Comment on Masyarakat Kati-Wambon dan Tokoh Adat Menolak Pembangunan PLTA di Sungai Kao Kabupaten Boven Digoel

  1. gomanurung // 25/01/2018 pukul 18:36 // Balas

    Sudah alihkan pembangunannya ke kampong saya saja di Sumatera Utara. Lebih cepat lebih baik. Capek deh melihat elite yang mengatasnamakan masyarakat adat selalu Negative Thinking dengan program pembangunan
    Harusnya jangan pakai kata menolak dulu… kan bisa minta dikaji ulang studi kelayakan lingkungannya dibuat perbaikan. Kasihan saudara2 ku di pedalaman Papua tidak merasakan hasil pembangunan Indonesia…

    Suka

3 Trackbacks / Pingbacks

  1. PLTA Sungai Kao Diduga Akan Memasok Energi Listrik Untuk Perusahaan Kelapa Sawit – Tribun Arafura
  2. Warganet Dukung Masyarakat Adat Kati-Wambon Tolak Pembangunan PLTA Sungai Kao – Tribun Arafura
  3. PLTA Sungai Kao Ditolak Karena Menyasar Banyak Tempat Keramat – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: