Lawan Kotak Kosong Tak Demokratis

Marhen Goo, Aktivis Kemanusiaan dan Demokrasi.@Tribun-Arafura.com

Oleh : Marthen Goo*

Dinamika di Indonesia soal melawan “kotak kosong”, menurut sebagian besar orang adalah “Demokratis”. Tentu ini juga bisa jadi bahan lelucon, karena pengertian Demokratis itu lebih pada pilihan dan ruang dalam kesetaraan. Kotak kosong dan kandidat, itu hal yang tidak berimbang, sehingga pengertian kedemokratisan disini menjadi ambigu.

Mestinya dalam semangat demokratisasi, harus diberikan hak dan batasan pada kandidat, semisal quotarum hanya 4 kursi, maka setiap kandidat hanya penuhi 4 kursi selebihnya diperuntukan untuk kandidat lain. Artinya bahwa jika terdapat 20 kursi, maka calon wajib hanya 5 kandidat. Sehingga tercapai dua prinsip, yakni: kesempatan bersaing dan demokratisasi dalam memilih pemimpin, dan ruang terbuka bagi mereka yang layak. Tentu harus didukung juga dengan mekanisme objektif soal survey.

Prinsip perebutan kekuasaan yang jauh lebih tinggi dari Demokratisasi, sesungguhnya menenggelamkan semangat demokrasi. Belum lagi adanya dugaan mahar yang berlebihan, yang mengakibatkan hanya pemilik uang dan modal serta pemegang kekuasaan yang memiliki ruang untuk melanjutkan kekuasaan berikutnya. Cara ini tanpa tersadari membangun sistim oligarki dan hirarki kekuasaan dengan tidak langsung menginjak-injak demokrasi.

Harus Diubah Sistem lawan kotak Kosong 

Untuk menjunjung tinggi semangat demokrasi, beberapa hal harus diubah yang salah satunya adalah “lawan kotak kosong”. Karena “lawan kotak kosong” itu cenderung melahirkan sistem yang tidak demokratis dan melahirkan kekuasaan turun-temurun, maka harus dirubah dengan sistem demokrasi yang memberikan akses dan ruang bagi pemimpin-pemimpin yang lahir dari rakyat untuk menata kemajuan rakyat, daerah dan bangsa.

Selain kotak kosong, harus diubah sistem survey Partai dan sistem pemberian surat sakti bersasarkan kuorum dan menekan kekebihan mahar.

Politik harus dilihat sebagai ruang demokrasi, pilitik harus dilihat sebagai seni, politik juga harus dilihat sebagai sarana untuk mensejahterahkan hajat hidup orang banyak. Kedewasaan dalam Politik harus dibangun baik, agar tidak semata-mata Politik dijadikan perebutan kekuasaan, karena kekuasaan itu esensinya adalah memikul beban publik untuk dicari solusi dalam berpemerintahan.

Karenanya, kita harus jauh berpikir bagimana menerapkan demokrasi yang demokratis dengan semangat melahirkan pemimpin-pemimpin yang selalu ada bersama rakyat dan memiliki jiwa pembangun dan penyelamat rakyat dari berbagai tekanan kemajuan dan himpitan sisten Kapitalisasi yang mengancam.

Berharap opini merombak sistem ‘lawan kotak kosong’ mengetok pintu hati pengambil keputusan/kebijKan untuk merombaknya menjadi ruang demokrasi esensial dengan persaingan para kandidat.

*Penulis adalah Aktivis Kemanusiaan dan Demokrasi

Iklan
About Tribun Arafura (155 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: