“Ekopol” Baku Tembak di Freeport

Arkilaus Baho, Aktivis Papua.@Facebook.com

Oleh : Arkilaus Baho*

Konflik bersenjata diakhir bulan ini sekitar Tembagapura areal Freeport. Dari pihak aparat (satgas pengamanan objek vital) hingga masyarakat sipil yang tak tahu apa-apa jadi korban.

Penembakan tersebut bukan saat ini saja. Konflik bersenjata kerap terjadi tanpa siapapun menduga. Ada yang bilang itu KKB, GSP, GPK bahkan menyebut OPM secara gamblang.

Awalnya, penembakan berawal sesaat setelah blokade akibat mogok para pekerja di cekpoin yang berakhir ricuh. Berlanjut, saling serang sekarang di Tembagapura terjadi di saat Freeport ingin menerapkan ketentuan Kontrak Karya berlaku pada skema IUPK. Keinginan Freeport tidak bisa diakomodir lantaran pemerintah sepenuhnya berkebijakan sesuai UU negara. Negosiasi yang berlangsung juga tidak membicarakan aspek keamanan perusahaan dan persoalan lainnya. Hanya bicara soal aspek ekonomi dan regulasi.

Sejarah OPM Timika

OPM benaran di Timika dikenal dengan KODAP III Timika. Munculnya kelompok ini berawal dari perlawanan Amungme tahun 1995 menolak Freeport pasca mengoperasikan tambang terbuka Grassberg. Perjuangan masyarakat setempat, kemudian hari dipukul mundur oleh militer Indonesia yang mendukung keamanan perusahaan disaat itu. Lantaran tidak didengar aspirasinya oleh pemerintah, ditambah pula banyak saudara mereka ditembak bahkan diperkosa, lahirlah sosok karismatik Kelly Kwalik.

Nama Kelly Kwalik bukan satu orang. Tapi sebutan kepada Kelly dan Titus Murib. Merekalah pucuk pimpinan era kebangkitan OPM disini. Satu peristiwa yang mendunia adalah diculiknya tim peneliti Lorenz yang berakhir dengan pembebasan sandera Mapenduma oleh Kopassus dibawah komando Prabowo saat itu.

Berbagai laporan investigasi menyebut Tim Peneliti tersebut dibiayai oleh Inggris untuk memata-matai markas OPM demi keamanan Freeport Rio Tinto. Mereka bermarkas di kali kopi. Sekarang lokasi ini sudah tidak aman lantaran aktivitas perusahaan.

Era kejayaan Kelly Kwalik memang bikin Freeport mati kutu. Bantuan dari Freeport ke lembaga lokal dan lainnya cenderung diberikan setelah Kelly Kwalik berulah. Belum pernah dia menembak manusia. Entah militer atau sipil. Yang sering dilakukan adalah meneror mobil, jembatan dan pemukiman Freeport. Kepemimpinan Kelly Kwalik memberi komando kepada Goliat Tabuni sebagai komandan operasi lapangan. Hubungan mereka awalnya terkomando sebelum Goliat Tabuni (GT) bergeser ke Puncak Jaya dan menetap

Supaya Tidak Hoaks

Akhir-akhir ini pasca penembakan di areal Freeport, muncul publikasi yang seolah-olah membenarkan pernyataan bahwa OPM sebagai pelakunya. Ada nama Sabinus Wakerkwa dan Kemong.

Publikasi yang “hoaks” itu bilang operasi OPM atas perintah Kemong, pengganti Kwalik. Padahal, Kemong sudah meninggal lantaran sakit seminggu sebelum kejadian tersebut terjadi. Klaim mengatasnamakan tersebut terjadi disaat keluarga Kemong sedang berduka.

Usut punya usut, ternyata ini kelompok fiktif yang mengatasnamakan atau mengklaim bahwa mereka operasi atas perintah Kemong. Cuplikan publikasi berupa foto dan video bahkan surat pernyataan atas nama OPM merebak dengan leluasa di Sosmed. Kebanyakan dipublikasi secara berganti-gantian. Paling banyak disebarkan oleh akun palsu dan sulit dipertanggungjawabkan kebenaranya. Bahkan kebanyakan mereka yang bukan di lokasi kejadian langsung mengklaim apa-apa yang diedarkan tanpa menelisik sumbernya.

Siapa gerangan yang mengaku OPM?

Pelakunya profesional dan terlatih untuk bikin chaos di medan sesulit apapun. Punya amunisi canggih dan tentu stoknya banyak. Darimana mereka punya itu semuanya?

Telisik punya telisik, kelompok tersebut adalah mereka yang kerap bikin onar di Puncak Jaya. Kelompok fiktif yang selalu bikin onar dan mengklaim perintah dari Goliat Tabuni dari gunung Tingginambut. Strategi mereka adalah memanfaatkan jarak antara markas OPM dengan Pos TNI. Mereka kerap menyerbu pos TNI dan mengklaim diri sebagai suruhan GT.

Upaya rekonsiliasi konflik di daerah Puncak Jaya selalu buntu karena kelompok fiktif yang mengendap di tengah tengah antara Pos TNI dan markas OPM. Bahkan, kerap pentolan OPM pun ikut klaim kasus tersebut padahal mereka sendiri tidak tau siapa gerangan yang menembak. Nah, pola dan motif kekerasan yang kronis di Puncak Jaya itulah kini bergeser ke Timika areal Freeport

Bagaimana solusinya?

Freeport harus tutup sampai negosiasi tuntas. Kenapa? Disaat operasi tambang ditutup jelang negosiasi inilah, persoalan keamanan yang kerap terjadi mampu dibongkar siapa gerangan yang bikin onar.

Negosiasi pun harus melebar membicarakan berbagai aspek. Terutama hak masyarakat sekitar tambang yang mengalami dampak secara langsung. Masalah lingkungan, pekerja hingga keamanan kedepanya seperti apa. Apakah masih relevan dengan pola pengamanan objek vital nasional yang biasanya dilakukan pada perusahaan berlebel PMA.

Desain masa depan Freeport adalah masa depan Tanah Papua. Inilah titik awal bagaimana memandang masalah. Maka itu, negosiasi antar tupoksi saja tidak menyelesaikan akar masalah disini. Apa akar masalahnya? Imperialisme! Bung Karno pernah menyerukan untuk merebut Papua dari cengkraman Kolonialis Belanda. Sekarang, tidak ada Belanda, yang ada Freeport.[]

*Aktivis Papua, tinggal di Jakarta

Iklan
About Tribun Arafura (166 Articles)
Media Online

1 Trackback / Pingback

  1. “Ekopol” Baku Tembak di Freeport — Tribun Arafura – Bennyw10's wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: