Tiga Tipe Tuan Tanah : Dimana Posisi Anda? (Bagian Kedua)

Everistus Kayep.@Facebook.com

Oleh : Everistus Kayep Sambungan dari Bagian Pertama

Peran Lembaga Pendidikan

KAJIAN-KAJIAN AKADEMIS Dari pihak Kampus yang dilakukan oleh para akademisi diperlukan untuk memberi bobot ilmiah terhadap proses perampasan tanah sehingga bisa diterima secara akademik. Keterlibatan pihak akademis juga bertujuan membentuk persepsi publik seolah-olah butir-butir Tri Dharma Perguruan Tinggi – Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat – sudah terlaksana.

Rekomendasi-rekomendasi akademik yang diberikan setelah dilakukan kajian selalu mendukung proses perampasan tanah dengan cara mendorong Tuan Tanah Tipe Pertama masuk kedalam logika investasi yang sudah ada dan diharapkan bisa memperbaiki hidup dibawah dominasi Tuan Tanah Tipe Ketiga menggunakan hukum-hukum rekayasa sosial.

Tujuan lainnya adalah membunuh daya nalar mahasiswa sehingga para mahasiswa yang sebagian besar merupakan anak-anak Tuan Tanah Tipe Pertama harus berhenti berpikir dan tidak boleh bersuara.

Mereka dicekoki berbagai cerita indah tentang masa depan kampungnya dibawah dominasi Tuan Tanah Tipe Ketiga dan ditipu dengan biaya studi atau penginapan di kontrakan yang nilainya tidak sebanding dengan hutan alam mereka yang sudah dihancurkan dan tanah mereka yang sudah berpindah tangan ke Tuan Tanah Tipe Ketiga untuk selamanya.

Peran Tokoh Agama

PARA TOKOH AGAMA Berperan sebagai pemberi bobot spiritual terhadap proses perampasan tanah. Dalam catatan sejarah perampasan tanah milik suku Marind, tokoh agama Katolik pernah mendoakan prosesnya di Gereja Katolik Serapuh. Seorang tokoh agama Protestan bahkan terlibat menipu masyarakat dan membawa kabur uang ganti rugi lahan di Mam dan kini hidup di Timika.

Mengapa peran tokoh agama sangat diperlukan? Karena Tuan Tanah Tipe Pertama telah menggantungkan hidupnya di institusi keagamaan. Hidup dalam eksploitasi dan proses peminggiran secara duniawi telah membuat mereka menjadi tidak berdaya dan ramai-ramai mencari keselamatan surgawi melalui jasa para tokoh agama.

Kondisi ini diketahui secara baik oleh Tuan Tanah Tipe Kedua dan Tipe Ketiga sehingga Tokoh Agama dikerahkan untuk melemahkan Tuan Tanah Tipe Pertama.

Kabut religius dan pancaran cahaya kudus dari jubah para tokoh agama ternyata memiliki kekuatan tersendiri, membuat Tuan Tanah Tipe Pertama melihatnya sebagai sesuatu yang sakral dan dengan demikian aktifitas para Tokoh Agama membela Investasi dianggap tabu dan tertutup untuk dibahas.

Peran ORNOP

PERLU DIPERJELAS BAHWA Istilah LSM atau Lembaga Swadaya Masyarakat mengandung makna yang rancu disebabkan oleh sumber pembiayaan aktivitas mereka yang bukan dari sumbangan masyarakat.

Oleh karena masyarakat tidak pernah secara swadaya membiayai mereka maka sebenarnya yang namanya LSM itu tidak pernah ada. Yang bertaburan saat ini dengan nama LSM sejatinya adalah ORNOP atau Organisasi Non Pemerintah.

ORNOP tidak pernah mandiri dalam pembiayaan. Jejaring ini secara nyata dibiayai oleh dua pihak yaitu pihak dalam negeri dan luar negeri. Pihak dalam negeri tidak lain adalah Pemerintah yang berkuasa dalam hal ini Tuan Tanah Tipe Kedua. Sedangkan pihak luar negeri adalah Pemerintah atau Lembaga Donor Asing yang terkait langsung dengan Tuan Tanah Tipe Ketiga.

Dari alur pembiayaan yang mereka terima, ORNOP secara nyata bertanggungjawab kepada donaturnya yaitu Tuan Tanah Tipe Kedua dan Tuan Tanah Tipe Ketiga.

ORNOP, walaupun secara aktif menggarap Tuan Tanah Tipe Pertama, tidak pernah bertanggungjawab kepada Tuan Tanah Tipe Pertama karena faktanya Tuan Tanah Tipe Pertama tidak pernah menjadi donatur ORNOP.

Dalam aktivitasnya, ORNOP banyak melakukan pendampingan terhadap korban investasi di kampung-kampung atau di sekitar areal perkebunan skala besar.

Di satu sisi mereka melakukan pelatihan-pelatihan untuk penguatan kapasitas masyarakat korban investasi. Tetapi disisi lain mereka menciptakan ketergantungan.

Korban investasi menjadi tergantung dan menyerahkan seluruh nasibnya ke tangan ORNOP. Ketergantungan ini menjadi akar persoalan mengapa korban investasi tidak pernah berdaulat dan merebut kembali hak-hak fundamentalnya atas tanah dan hutan alam yang dirampas walaupun mereka sudah didampingi oleh ORNOP selama bertahun-tahun.

Peran ORNOP sejatinya adalah melakukan pengalihan perhatian dan membunuh upaya-upaya Tuan Tanah Tipe Pertama melakukan Gerakan Rakyat. Sebagai gantinya ORNOP memelopori berbagai langkah pengalihan perhatian seperti Workshop, Hearing dengan Legislatif, Langkah Hukum di Pengadilan sampai pada pembuatan laporan ke badan dunia seperti Sub Komite atau Komisi PBB.

Fakta membuktikan, selama Tuan Tanah Tipe Pertama memperjuangkan hak-hak mereka dibawah bimbingan teknis pihak ORNOP, posisi mereka untuk selamanya tetap sebagai ORANG-ORANG KALAH.

Posisi pihak asing

PIHAK ASING MENJADI pemain kunci di tingkat dunia karena sejatinya proses perampasan tanah dan hutan alam yang terjadi di Indonesia untuk kepentingan investasi pertambangan atau perkebunan skala besar adalah untuk menjawab semua kebutuhan mereka akan pangan dan energi yang akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dan politik dunia.

Mereka adalah pihak yang paling menikmati hasil rampasan dan ini terbukti dari kemakmuran dan kejayaan mereka yang diperoleh dengan menjajah dan menjarah bangsa-bangsa dunia ketiga termasuk Indonesia.

Peran negara asing dalam permainan ini adalah : (1) menyediakan teknologi mutakhir dan tenaga ahli untuk kepentingan investasi; (2) menyediakan pasar global atau menjadi negara tujuan impor untuk menerima bahan baku atau setengah jadi yang disalurkan oleh Tuan Tanah Tipe Ketiga; (3) menyediakan teknologi militer dan pelatihan kontra gerilya, kontra revolusi atau kontra teroris bagi Polisi dan Tentara sehingga Tuan Tanah Tipe Ketiga bisa mendapat perlindungan secara maksimal.

Secara politis konspirasi pihak asing terlibat aktif : (1) menjaga dan mengakui kedaulatan NKRI dengan maksud proses eksploitasi terhadap Tuan Tanah Tipe Pertama yang menguntungkan mereka terus berjalan; (2) mencegah gerakan separatis dari wilayah-wilayah yang dijadikan sapi perah mendapat tempat di panggung regional maupun dunia; (3) menyokong perjuangan damai bagi gerakan separatis dengan maksud investasi tetap aman beroperasi dan rutin menyalurkan hasil eksploitasi ke pasar dunia. (Bersambung)

Iklan
About Tribun Arafura (155 Articles)
Media Online

1 Trackback / Pingback

  1. Tiga Tipe Tuan Tanah : Dimana Posisi Anda? (Bagian Pertama) – Tribun Arafura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: