Goncangan dan Tsunami Kemanusiaan Bangsa Melanesia di Tanah Papua

Natalius Pigai. @Ist.

Oleh : Natalius Pigai*

Pada saat ini, Bunda Tanah Papua sedang beranda dalam goncangan besar karena adanya tsunami kemanusiaan. Jutaan rakyat yang ada di atas bunda tanah Papua di lepas pantai, pesisir, pedalaman, pegunungan menjerit, merintih, sedih dan tangis.

Saban hari kita hanya bisa mendengar nyanyian dengan syair elegi karena tragedi kemanusiaan yang menimpa rakyat melanesia di Tanah Bunda Papua makin lama makin menua. Ratusan ribu orang menderita Karena penangkapan, penganiayaan, penyiksaan, pembunuhan.

Perampasan kekayaan alam melalui; hutan kita yang paru-paru dunia dirampok (ilegal loging), emas, perak, minyak, uranium bahkan plutonium di jarah (ilegal maining), ikan2 di laut dan segala biota dicuri (ilegal fisihing).

Orang Melanesia tidak pernah mengenal Kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme namun hari ini tikus-tikus berdasi merasuk sendi-sendi kehidupan politik dan Pemerintah.

Adanya penetrasi kapital disertai penetrasi sipil dan militer mengesampingkan bumi putra tersingkir karena tercipta segregasi antara pekerja lokal Papua (blue colar) dan pekerja asing dan migran sebagai (white colar) melalui diskriminasi upah dan jabatan.

Penetrasi sipil juga menyebabkan mereka menguasai sumber daya ekonomi di bandar-bandar seperti; Sorong, Manokwari, Biak, Serui, Nabire, Timika, Jayapura, Merauke dan Wamena, sementara putra bangsa melanesia tersingkir di pinggiran.

Tingginya kematian ibu dan anak serta perlambatan pertumbuhan penduduk Papua adalah indikasi nyata secara perlahan sedang terjadi bahaya genosida (Slow motion genocida).

Itulah kejahatan kemanusiaan yang terabaikan dan Papua menjadi wilayah tragedi terlupa di abad ini.

Selain itu juga orang Papua dihadapkan pada bahaya liberalisasi ekonomi, ilmu pengetahuan dan teknologi termasuk kecepatan teknologi yang bergerak ibarat jugernut yang melintasi jalan bebas hambatan dan tidak bisa dibendung.

Di tengah situasi ini sebagai kita harus siap untuk memutus rantai kejahatan dan siap-siap menghadapi perubahan.

Untuk merubah tanah kita “Bunda Tanah Papua” kita harus menjadi bagian dari perubahan, harus, harus dan harus menjadi bagian dari mesin perubahan.

Jadilah bagian tidak terpisahkan dari perubahan demi perubahan yang akan terjadi di tanah kita “Bunda Papua”.

Kita pertahankan tanah air nenek moyang bangsa Melanesia dengan Persiapkan diri dengan : (1) Pengetahuan (Knowledge) cukup; (2) ketrampilan (skills) memadai; (3) mental dan moralitas yang baik (attitude).

Jika kita tidak mempersiapkan diri jangan pernah menangis jika Anda dan saudara-saudara kita ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri. Jika kita tidak berada dalam perubahan jangan pernah sedih kalau ditinggalkan oleh perubahan itu sendiri.

Perubahan tidak pernah mengenal kata “kompromi”, perubahan berada di gerbong besar jadi jangan pernah menangis dan jangan pernah menyesal jika kita ditinggalkan oleh gerbong perubahan.[]

*Natalius Pigai adalah Komisioner Komnas HAM Republik Imdonesia, tinggal di Jakarta.

Iklan
About Tribun Arafura (155 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: