Petisi Pecat Kaporles Nabire dan Adili Aparat Gabungan di Dogiyai Papua

Petisi FRI-West Papua, AMP dan Format Papua untuk Stop Kekerasan Aparat Gabungan TNI/POLRI di Dogiyai Papua. @Change.Org
Kronologi kekerasan di Moanemani, kabupaten Dogiyai, dimulai sejak bulan September 2016, saat tim Giat Operasi Mantap Praja (Gompra) saktif  sweeping di atas jembatan kali Tuka di Moanemani, distrik Kamuu, kabupaten Dogiyai. Sweeping ini terus berlanjut hingga tanggal 24 Januari 2017, terus berlanjut hingga kini. Tim Gompra dikirim pihak Polda Papua untuk menjaga Kamtibmas Dogiyai saat Pilkada kepala daerah di Dogiyai diselenggarakan. Lalu Gompra mulai bikin sweeping untuk kendaraan roda dua dan roda empat.
Tapi Gompra tidak sweeping dan periksa SIM, STNK, dan sejenisnya yang berhubungan dengan lalu lintas, sebagaimana sweeping di jalan pada umumnya. Gompra bikin sweeping peralatan tajam; atribut (baju, gambar, foto, gelang, peralatan/benda-benda yang telah ditempeli stiker dan gambar yang bersimbol identitas Papua merdeka) juga ikut disweeping; bahkan hingga uang yang diambil paksa dari masyarakat yang hendak berbelanja di pasar. Tim Gompra ancam dan benar-benar pukul hingga babak belur  setiap siapa saja yang membantah, melawan, atau mempertahankan haknya atas baju, tas, gelang, kalung, Hp, leptop dan uang yang adalah miliknya yang disita tersebut.
Masyarakat yang kedapatan berjanggut panjang, atau berambut gimbal, mereka juga menjadi sasaran sweeping. Mereka ditahan, lalu diinterogasi mengenai aktivitas mereka sehari-hari. Saat para korban memprotes, tim Gompra membalasnya dengan pemukulan dan penganiayaan pada korban. Uang yang dibawa rakyat Dogiyai yang telah jadi korban sweeping akan diambil tim Gompra untuk selanjutnya tidak dikembalikan lagi, alias menjadi milik tim Gompra.  Penjual minuman keras (Miras) oplosan dan berbagai merk, baik yang lokal maupun berlabel pasar nasional dan internasional mulai dipasarkan di Dogiyai. Rakyat menolak kehadiran para penjual Miras ini, tapi dilindungi aparat keamanan: TNI dan Polri di Dogiyai. Bahkan ada oknum dari TNI dan Polri yang malah menjadi penjual, pemasok dan penjual melalui perantaraan beberapa anggota masyarakat, jadinya, bahkan Dinas Perindakop kabupaten Dogiyai saja ditekan hingga programnya memberantas Miras tidak kunjung direalisasi. Tapi giliran para pemuda Dogiyai kepadapan mabuk,  aparat keamanan RI pukul para pemuda itu babak belur, lalu dibawa ke kantor polisi. Disana diisolasi, direndam, disetrum dan disel.
Sebelumnya, rakyat Dogiyai punya sejarah kelam berhadapan dengan aparat keamanan RI. Sebut saja penembakan di Ugapuga oleh oknum Brimob, tabrak lari di Degeydimi oleh mobil patroli Brimob, Polses Dogiyai yang melindungi oknum sopir pelaku tabrak lari rakyat Dogiyai hingga meninggal dengan isi perut tertumpah keluar. Berbagai operasi-operasi militer saat Papua masih berstatus Daerah Operasi Militer (DOM) sejak 1970 hingga 1998. Semua itu bikin orang Papua tidak lagi percaya pada RI, tidak lagi percaya kepada TNI, Polri, Brimob, Kopassus dan berbagai kesatuan aparat keamanan lainnya.
Sementara itu, di Gorontalo-Manado, Polisi di sana menangkap dan menahan 6 (enam) orang aktivis Papua (Hiskia Meage, Eman Ukago,William Wim, Panus Hesegem, Hosea Yeimo dan Ismail Alua) pasca kegiatan peringatan hari deklarasi kemerdekaan Papua pada 01 Desember dan peringatan hari Trikora pada 19 Desember tahun 2016 lalu. Hingga hari ini, mereka ditahan dan dikenakan pasal makar. Sementara di Papua, ribuan massa aksi rakyat Papua berkali-kali ditangkap dalam kegiatan demonstrasi damai menuntut hak-haknya. Setiap orang yang bersuara di jalan-jalan dicari, diiinterogasi, diintimidasi, dibatasi hak dan kebebasannya. Di Papua, demokrasi Indonesia jadi tidak berlaku dan hal tersebut dipelihara Indonesia melalui aparat keamanannya: TNI, Polri, Brimob, dll.
Orang Papua tak terperhatikan, sementara tanah, air, udara, emas, tembaga, uranium, nikel, minyak bumi dan hutan Papua dicintai Republik Indonesia, selalu dikeruk dan dibawa untuk bangun Jakarta (Indonesia) sementara Papua menderita sejak penggabungan paksa Papua tahun 1969. Orang Papua miskin, menderita, mati karena ditembak, meninggal karena penyakit, lapar, dan menderita batin di atas kekayaan alamnya yang kaya. Sementara itu, jumlah penduduk Papua secara kuantitas terus merosot tajam. Menurut perbandingan jumlah penduduk asli dan pendatang menggunakan BPS RI, tahun 2030, diprediksi, orang asli Papua hanya 28% dari total populasi di atas tanah Papuanya sendiri.
Untuk meliput semua persoalan ini, Indonesia tidak mengizinkan wartawan luar Papua, wartawan asing, datang untuk meliput. Papua diasingkan dari wartawan dan pemberitaan, sehingga apa yang dialami Papua tidak menyebar, tidak diketahui oleh dunia luar.
Melihat semua persoalan di atas, kami Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI West Papua), Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Forum Mahasiswa untuk Rakyat Papua (Format Papua) menyerukan:
1. Copot jabatan Kapolsek Nabire dan kapolsek Dogiyai;
2. Hapuskan pasal makar;
3. Tarik pasukan Gompra dari Dogiyai;
4. Hentikan jeratan pasal makar terhadap 6 aktivis West Papua (Hiskia Meage, Eman Ukago,William Wim, Panus Hesegem,Hosea Yeimo, Ismail Alua);
5. Tarik pasukan organik dan non organik dari seluruh tanah Papua;
6. Hak menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi rakyat dan bangsa Papua;
7. Menuntut Komnas HAM segera turun lakukan investigasi untuk mengunkit kekerasan dan pembunuhan di Dogiyai Papua, dan korban pasal makar;
8. Buka kesempatan seluas-luasnya bagi jurnalis internasional untuk melakukan peliputan di Papuadan;
9. Hentikan kekerasan terhadap rakyat dan bangsa Papua.
Yogyakarta, 03 Februari 2017
FRI West Papua [] AMP [] Format Papua
__________
Iklan
About Tribun Arafura (155 Articles)
Media Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: